Senin, 07 Mei 2012
Snow White
Pada suatu hari ketika musim salju, seorang ratu sedang menjahit dan tanpa sengaja jarinya terkena jarum dan berdarah.
“Yee, orang aku pakai mesin jahit kok…”
Tiba-tiba mesin jahitnya meledak! Bunyinya BUM! Ruangan sang ratu menjahit hancur berkeping-keping, mesin jahit itu hancur lebur, ruangan-ruangan di sebelahnya rusak parah, saluran listrik, air, gas, telpon, internet, satelit, dan eee… sambungan telpon dengan benang, semuanya nonaktif. Bisa dibayangkan dong gimana keadaan sang ratu… Jari sang ratu terkena jarum dan berdarah.
…
Sang ratu melihat tetesan darah yang terjatuh di atas salju putih.
“Seandainya saja aku memiliki anak perempuan yang seputih salju, semerah darah, dan sehitam bingkai jendela itu.”
…
Disana nggak ada bingkai jendela, sungguh.
Beberapa tahun kemudian sang ratu melahirkan anak perempuan yang sesuai keinginannya. Kulitnya hitam, matanya merah, dan rambutnya putih.
…
Sang ratu nggak ingin anak seperti itu, jadi kelahiran anaknya tadi dibatalkan. Kemudian ia menggambarkan gambar anak yang diinginkannya, berkulit putih kemerahan dan berambut hitam seperti bingkai jendela itu.
…
Bingkai jendela yang mana sih?
Sang ratu kemudian menyerahkan draft itu ke desainer dan kemudian desainer menyerahkan pada dokter. Sang ratu melahirkan anak sesuai keinginannya, dan anak itu dinamai Snow White. Tidak lama kemudian sang ratu meninggal, kematiannya dimungkinkan karena keracunan, sebab ditemukan zat pewarna putih, hitam, dan merah di rahimnya. Hitamnya seperti bingkai jendela itu.
…
Bingkai yang di dekat vas itu bukan?
Sang raja yang mengetahui kematian istri yang sangat dicintainya sepenuh hati shock berat, karena itulah ia menikah lagi dengan wanita cantik yang ia pilih dari seluruh penjuru dunia, saking shocknya.
Meskipun cantik, wanita itu agak aneh. Ia sering bicara sendiri dengan cermin, padahal di kerajaan nggak ada cermin. Karena itu ia mendatangi toko cermin.
“Mas, ada cermin yang enak diajak omong nggak?”
Penjual cermin berpikir, dia ini pasti ratu talking-to-mirror-mirror-hanging-on-the-wall-you-do-not-have-to-tell-me-who-is-the-biggest-fool-of-all yang dinikahi raja. Tapi bagaimanapun juga ia sangat menghormati raja.
“Hei, ratu bodoh! Kalau mau cermin ke belakang sana! Apa?! Gitu aja minta diantar?! Manja!”
Ratu sangat terkejut, ia menangis…
“Ternyata ada juga yang tahu kalau aku ini bodoh, aku sangat terharu…”
Ratu baru itu kemudian tiba di ruangan penuh cermin. Ia mengajak salah satu cermin bicara.
“Cermin-cermin di dinding, siapakah gadis yang paling cantik?”
Cermin itu kemudian menjawab.
“Hei, siapa yang kamu maksud? Aku?”
“Yaaa… Iyalaaah…”
“Kalau gitu jangan pakai jamak, dasar ratu bodoh!”
“Wah kamu juga tahu kalau aku bodoh! (senang) Baiklah, cermin di dinding, siapakah wanita yang paling cantik?”
“Tergantung…”
“Tergantung?”
“Kamu sudah melakukan hal itu dengan raja belum?”
“Hal itu? Hal yang… Itu? I… tu… Eh, gimana yaaa… Belum…”
“Heh (menyindir), dasar anak-anak.”
“Apa maksudmu?!”
“Kamu nggak tahu ya? Aku dengan istriku sudah melakukan itu puluhan kali.”
“Puluhan kali? Melakukan apa? Gimana?”
“Sudah ah, aku nggak mau menanggapi anak kecil. Bye.”
“…”
Ratu baru itu masih agak bingung. Ia pun memilih cermin lain.
“Cermin, apakah aku paling cantik?”
“Tidak.”
“Apa aku cantik?”
“Tidak.”
“Apa aku cantik?!”
“Tidak.”
“Apa kamu bisa berbicara yang lain selain tidak?!”
“Coba lagi.”
“Apa aku cantik?”
“Tidak.”
“…”
Ratu itu merasa pernah melihat hal yang sama di acara televisi kerajaan.
Ratu itu pun pasrah dan meninggalkan toko. Seketika ia kembali ia dibelikan cermin oleh raja. Ia senang dan mulai mengajak cermin itu bicara.
“Oh cermin yang tergantung di dinding, siapakah wanita yang paling cantik?”
“Thou, O Queen, art the fairiest of all!”
Ratu itu tidak tahu bahasa asing, tapi ia sangat senang karena ia baru kali ini mendengar cermin berbicara. Raja yang mengetahui itupun jadi senang.
“Ternyata ia memang suka dengan cermin talking-only-thou-punctuation-o-queen-punctuation-art-the-fairiest-of-all-exclamation yang kubelikan.”
Tetapi hal itu tidak lama, tujuh tahun setelah itu (itu lama yo…) Snow White telah menjadi gadis kecil yang cantik. Kulitnya yang putih kemerahan menjadi sangat indah, dan rambutnya yang hitam menjadi sangat menyerupai bingkai jendela itu.
…
Kalau bukan yang di dekat vas berarti yang mana?
Ketika ratu baru (sudah tujuh tahun, sudah lama berarti) itu mencoba berkata pada cermin, ia terkejut.
“Oh cermin yang tergantung di dinding, siapakah wanita yang paling cantik?”
“Thou art fairer than all who are here, Lady Queen. But more beautiful still is Snow-white, as I ween.”
“Apa?! Mengapa bicaramu berganti jadi panjang? Pendek aja aku nggak ngerti!”
Raja yang mengetahui hal itu cukup kecewa juga.
“Kenapa ia tidak suka dengan cermin talking-only-thou-art-fairier-than-all-who-are-here-punctuation-lady-queen-full-stop-but-more-beautiful-still-is-sno-white-punctuation-as-i-ween-full-stop yang baru? Padahal cermin itu lebih mahal?”
Ratu menjadi marah kepada Snow White karena namanya disebut di cermin. Ia pun menyuruh assasin untuk membunuh Snow White dan membawa hatinya sebagai bukti.
“Hei, ass! bunuh Snow White dan bawa kesini hatinya.”
“Kok aku dipanggil ass, sih? Ya udah, nggak papa, nggak ada yang senang kalau aku hidup.”
Assasin itu pergi dengan langkah lemas.
Tidak butuh waktu lama untuk assasin menemukan Snow White, Snow White berada di depan pintu kamar ratu.
“Hai, asin! Mau nemuin mama ya?”
“Mengapa sekarang aku dipanggil asin? Nasibku…”
“Kenapa, asin?”
“Nggak papa, kalau gitu aku nemuin mamamu dulu ya…”
“Oke deh kalau gitu…”
Assasin kembali ke kamar ratu.
“Ratu mencari saya? Atau saya mencari ratu?”
“Lho, udah kembali kamu. Gimana ass? Udah dapet hatinya Snow White?”
“Eh, hati? Hati… Oh! Err… Anu…”
“Wow! Apakah bola yang kamu pegang itu hatinya Snow White? Bagus sekali kerjamu. Nanti bayarannya kukirim ke rekeningmu.”
Assasin itu heran juga, ratu kan tahu kalau ini bola? Tapi nggak papa lah, setidaknya ia nggak jadi membunuh seseorang, ia takut dosa.
Tiba-tiba Snow White masuk kamar ratu.
“Mama, Snow White mau main dulu ya…”
“Baiklah, Snow. Hati-hati ya…”
“Dah mama…”
“Dah Snow…”
Assasin yang melihat itu heran, kayaknya ada sesuatu yang… Sudahlah.
…
…
…
Kok habis?
Lho, katanya sudahlah, ya sudah, sudah habis.
…
Yaaa… Nggak bisa gitu lah.
Kemudian Snow White yang kesepian di hutan kebingungan.
Kok Snow White bisa di hutan? Sebelumnya dia kan di istana?
…
Kemudian Snow White yang kesepian di istana kebingungan.
DI istana kok kesepian? Ramai ah.
…
Kemudian Snow White yang tidak kesepian di istana kebingungan.
Nggak kesepian kok kebingungan?
…
Kemudian Snow White yang tidak kesepian di istana tidak kebingungan.
Kalau nggak kebingungan ngapain?
…
Kemudian Snow White kebingungan bagaimana bisa dia yang sebelumnya berada di istana yang tidak sepi jadi tidak membuatnya kebingungan tiba-tiba berada di hutan yang sepi yang membuatnya lebih bingung lagi.
…
Hari sudah semakin sore, Snow White yang tersesat di hutan kebingungan, dia terus berlari.
“Bagaimana ini, hari semakin sore, garis finisnya masih tidak kelihatan…”
Setelah lama dia melihat kotej yang ukurannya kecil, kotej itu sangat kecil sehingga semua perabotannya ditaruh di luar. Disana ada meja yang diatasnya ada 7 piring kecil dengan warna berbeda-beda, ada merah, merah kemerahan, merah kemerah-merahan, merah berbintik merah, merah bergaris merah, putih berlapis merah, dan hitam yang dicat merah. Di atas piring itu hanya ada tepung, tepung, dan tepung.
“Apaan sih ini? Semua piring kok isinya tepung? Nggak ada sendok lagi, adanya sumpit.”
Bagaimanapun juga, karena ia kelaparan semua tepung itu dimakannya (dengan sumpit). Kemudian ia tertidur karena makan puding rasa obat tidur.
Tiba-tiba ada 7 kurcaci yang kelihatannya habis pulang bekerja. Mereka kaget ketika membuka pintu kotejnya.
Kurcaci pertama bertanya, “Siapa yang duduk di kursiku?”, ia bertanya sambil duduk di kursinya.
Kurcaci kedua, “Siapa yang makan di atas piringku?”, ia bertanya sambil kebingungan mencari piringnya.
Kurcaci ketiga, “Siapa yang memakan rotiku?”, ia bertanya sambil makan roti.
Kurcaci keempat, “Siapa yang memakan sayurku?”, ketika ia melihat kurcaci ketiga makan roti ia meralatnya, “Siapa yang memakan rotiku?”
Kurcaci kelima, “Siapa yang menggunakan garpuku?” … “Kapan aku punya garpu?”
Kurcaci keenam, “Siapa yang memotong dengan pisauku?”, ia bertanya sambil menggesek-gesekkan pisaunya ke tangannya, “Aduh!”
Kurcaci ketujuh, “Siapa yang minum menggunakan mugku?” … “Jangan dijawab! Aku tidak bertanya padamu!”
Kemudian ketujuh kurcaci itu tersadar, di dalam kotejnya kan nggak ada apa-apa…
Kayaknya mereka kurang tidur, ketika mereka menuju tempat tidur, mereka kaget.
“Siapa yang habis tidur di tempat tidurku?” Kurcaci pertama bertanya.
“Bukan, bukan aku!” Kurcaci kedua menyangkal.
“Siapa yang bertanya padamu?” Kurcaci ketiga bertanya.
“Bagaimana kamu bisa tahu kurcaci pertama tidak bertanya pada kurcaci kedua?” Kurcaci keempat bertanya.
“Kenapa sampai sekarang aku nggak punya tempat tidur?” Kurcaci kelima bertanya.
“Tempat tidur? Apa itu tempat tidur?” Kurcaci keenam bertanya.
“Hei, ada yang tidur di tempat tidurku!” Kurcaci ketujuh tidak bertanya.
Keenam kurcaci lain melihat tempat tidur kurcaci ketujuh, disana ia melihat ada seorang gadis yang tertidur pulas.
“Lihatlah, cantiknya gadis itu!” Kurcaci pertama berkata.
“Iya, cantik.” Kurcaci kedua mengiyakan.
“He! Ojok mbebek ae kon! (Hai! Jangan mengangsa saja kau!)” Kurcaci ketiga menghardiknas.
“Apa? Aku cantik?” Kurcaci keempat bertanya pertanyaan retoris.
“Kamu bukan gadis yoo…” Kurcaci kelima mengklarifikasi.
“Diam, diam, nanti gadis itu bangun, kasihan dia.” Kurcaci keenam menasehati teman-temannya.
“Aku harus ngomong apa ya?” Kurcaci ketujuh bingung.
Ketujuh kurcaci tersebut kemudian tertidur pulas di kasur masing-masing.
“Hei, aku harus tidur dimana?” Kurcaci ketujuh akhirnya tahu apa yang harus dikatakan.
Esoknya, Snow White terbangun dan kaget melihat kurcaci.
“Hai, aku kaget lho…”
Ketujuh kurcaci tersebut ikutan terbangun.
“Ah”, “rupanya”, “kamu”, “sudah”, “terbangun”, “dari”, “tidurmu.” (kata-kata tersebut diucapkan secara berurutan oleh kurcaci)
“Kalian pemilik kotej ya? Maafkan aku, aku telah memakan semua tepung kalian… Tapi kalian kok makannya tepung?”
1. “Ah itu… Nggak papa… Nggak tahu juga, setelah kami memberikan makanan ternak, menyiram sayuran, atau mengambil hasil panen, warga memberi kami tepung…”
2. “Iya, habis murah kayaknya…”
3. “Baca guide dari mana sih?
4. “Iya, padahal nggak enak…”
5. “Kadang-kadang mereka juga datang siang-siang…”
6. “Minta relaxation tea leaves lagi.”
7. “Iya, budum.”
… Budum?
7. “Ah iya, kok aku bisa ngomong budum ya?”
“Sebenarnya nggak tahu kenapa aku bisa ada di hutan ini, aku nggak tahu jalan pulang. Boleh aku tinggal disini?”
“Asalkan kamu bisa mengurus rumah”, “masak”, “membersihkan tempat tidur”, “cuci baju”, “menjahit”, “menyulam”, “dan membersihkan rumah, kami bisa menerimamu.”
“Ah, aku bisa, tenang saja.”
“Baiklah kalau begitu.” Kurcaci manapun yang ngomong nggak penting.
Esoknya, ketika kurcaci itu pulang dari membantu pertanian warga…
Bukan warga sih, tepatnya seseorang yang memakai topi biru dan tas ransel kuning…
….
Hei, pekerjaan kurcaci itu bertambang tahu!
Sudahlah, ketika mereka pulang mereka melihat rumah mereka (masih) berantakan.
“Snow White! Mengapa semuanya masih berantakan?”
“Hah? Memang dari tadi gitu kok…”
“Bukannya kamu harus membereskan rumah?”
“Hah? Kenapa harus aku?”
“Kan perjanjiannya gitu, kamu harus bersihin rumah untuk tinggal disini…”
“Hah? Bukannya kalian bilang asalkan aku bisa mengurus rumah dan lain-lain? Aku bisa kok, tapi kenapa juga aku harus mengerjakannya untuk kalian?”
“Eee… Bila kau bilang seperti itu benar juga…”
Kemudian kurcaci-kurcaci itu menyesal tidak bisa meralat apa yang telah dituliskan pada cerita ini karena mereka nggak memiliki hak akses administrator.
Dari hutan kita beralih ke istana raja. Ratu senang karena kali ini cermin yang dimilikinya berbahasa Indonesia.
“Oh cermin yang tergantung di dinding, siapakah wanita yang paling cantik?”
“Tentu saja anda, wahai ratu.”
“Terima kasih cermin, kalau yang paling ganteng?”
“Tentu saja anda, wahai ratu.”
“Kok… Kalau yang paling jelek?”
“Tentu saja anda, wahai ratu.”
“… Paling idiot?”
“Tentu saja anda, wahai ratu.”
“Apa maksudnya semua ini?! Ini semua pasti gara-gara Snow White masih hidup dan bersembunyi di hutan! Aku akan membunuhnya sekarang juga!”
Kemarahan ratu sangat memuncak, ia pergi ke rumah penyihir dan mencari cara untuk membunuh Snow White.
“Tentu saja anda, wahai ratu.”
…
Ratu mendapatkan cara untuk membunuh Snow White dari penyihir yang ia temui di perempatan dekat pasar. Ia menyamar sebagai pedagang keliling dan menjual kalung ke Snow White.
“Wahai gadis yang cantik, maukah kau membeli kalung ini?”
“Kalung yang cantik sekali ya mama, eh, pedagang keliling. Aku beli deh.”
“Baiklah, akan kukenakan kalung ini ke lehermu.”
Ratu memakaikan kalung itu ke Snow White. Karena ingin membunuhnya, Ratu mencekik leher Snow White dengan itu. Snow White pingsan dan Ratu kabur kembali ke istana.
Snow White terbangun, “Dasar penjual aneh, masa kalung diikatkan ke tangan sih? Ngikatnya keras lagi, untung nggak di leher, bisa bahaya tuh.”
Snow White kemudian kembali ke rumah kurcaci dengan darah mengucur deras dari nadinya.
Ratu kemudian bertanya lagi pada cermin.
“Oh cermin yang tergantung di dinding, siapakah wanita yang paling cantik?”
“Tentu saja anda, wahai ratu.”
“Apa?! Snow White masih hidup!? Kurang ajar! Sekarang pasti akan kubunuh dia!”
“Tentu saja anda, wahai ratu.”
Kemudian ratu menyamar menjadi seorang nenek dan menjual sisir beracun ke Snow White.
“Wahai gadis yang berambut bagus, mau sisir?”
“Boleh juga mama, eh, pedagang keliling, eh, nenek penjual sisir.”
Ratu kemudian menyisir rambut Snow White dengan sisir itu.
Sesaat kemudian Snow White pingsan. Ratu kembali ke istana dengan perasaan senang.
Snow White terbangun, “Dasar nenek, kok yang disisir rambut yang lain sih (yang mana?). Aku sampai pingsan karena geli.”
Snow White kemudian kembali ke rumah kurcaci.
Tunggu, pada adegan tadi rambut bagian mana yang disisir?
Di istana Ratu bertanya lagi pada cermin, tapi sebelumnya ia haus.
“Pelayan, ambilin minum dong!”
“Tentu saja anda, wahai ratu.”
“Apa?! Masih belum mati!? Argh! Sekarang pasti!”
“Tentu saja anda, wahai ratu.”
Pelayan datang tapi ratu keburu pergi.
“Lho, kemana sang ratu?”
“Tentu saja anda, wahai ratu.”
Kemudian ratu menyamar menjadi seorang nenek, kali ini jualan apel beracun.
“Mau?”
“SMS sesama operator masih gratis? SMS ke operator lain 100 rupiah? Eh, bukan ya…”
“Duh, jangan iklan dong. Apel nih, mau nggak?”
“Mau dong mama, eh, pedagang keliling, eh, nenek penjual sisir, eh, nenek penjual apel.”
Snow White kemudian memakan apel itu. Tidak lama kemudian dia pingsan.
“Hahaha, yang ini pasti mujarab. Kembali dulu ah.”
Kali ini berbeda, Snow White tidak bangun-bangun.
Para kurcaci yang baru pulang kaget, mereka kira Snow White mati dan meletakkannya di peti kaca.
Lho, nggak dipastikan dulu? Siapa tahu masih hidup?
“Nggak mau ah, dia cuma ngerepotin mas… Kalau masih hidup beneran gimana? Repot kan? Mas sih enak, cuma jadi narator, ngomong doang.”
… Duh, aku sih pinginnya jadi cermin yang cuma bisa ngomong “Tentu saja anda, wahai ratu.” itu…
Sudah lama Snow White tersimpan di lemari es… Eh bukan ya? Peti kaca ding.
Dia tidak terlihat seperti seseorang yang telah meninggal. Dia tetap seputih salju, semerah darah, dan rambutnya sehitam bingkai jendela itu.
…
Jangan-jangan bingkai di tempat lain…
Suatu hari pangeran kerajaan tetangga tiba di hutan tempat kurcaci-kurcaci itu, dia kebingungan juga kok bisa tiba-tiba ada disana.
Ia melihat peti kaca Snow White dan tertarik untuk membawanya. Ia membaca tulisan emas di peti itu.
“Dijual cepat, 10 ribu bisa nego.”
Pangeran itu membeli peti Snow White, dengan nego dulu tentunya. Sebenarnya para kurcaci merasa berat dengan kepergian Snow White itu.
“Ya jelas berat, kita disuruh mengangkat peti ini sampai kerajaan. Dasar pangeran pelit.”
Tiba-tiba ditengah jalan peti itu terjatuh karena dibuang oleh para kurcaci.
… Itu sih bukan terjatuh namanya.
“Berat tahu! Kamu kan nggak bayar biaya pengantaran. Udah ah, kami mau pesta teh, musim semi nih!”
“Tunggu dulu! Terus bagaimana aku bisa membawanya?”
Peti yang jatuh itu terbuka dan Snow White terjatuh. Dari mulutnya keluar potongan apel beracun itu.
“Aduh sayang nih!”
Snow White memakan kembali apel itu. Kali ini baru racunnya bekerja, tadi sih Snow White bukan pingsan, tapi tidur.
“Lho kok pingsan lagi?”
Pangeran tersebut menggendong Snow White sampai ke kerajaannya. Sampai di kerajaan, Snow White terbangun.
“Terima kasih tumpangannya.”
“Lho? Jadi kamu tadi tidak pingsan ya?”
“Kenapa aku harus pingsan? Kamu pingin aku pingsan ya?”
Kemudian Snow White pingsan. Ratu kerajaan itu tidak sengaja melihatnya.
“Anakku! Apa yang kau lakukan pada gadis itu? Kamu telah menghamilinya ya?!”
“Apa?! Kalau begitu maafkan aku ibu! Aku akan bertanggung jawab!”
Kemudian Snow White dan pangeran itu akan dinikahkan.
Di lain tempat, ratu yang lain sedang berbicara pada cermin.
“Oh cermin yang tergantung di dinding, siapakah wanita yang paling cantik?”
“Tentu saja anda, wahai ratu.”
“Apa!? Snow White menikah dengan pangeran kerajaan lain?! Kurang ajar, masih hidup saja dia!”
Ratu pergi ke kerajaan tetangga dengan amarah yang memuncak.
“Tentu saja anda, wahai ratu.”
…
Sesampainya di kerajaan tetangga, ratu (mama Snow White, tapi bukan manajernya kayak yang di suatu acara TV) melihat pernikahan Snow White dengan pangeran kerajaan itu. Ia mendekati Snow White dan akan mengucapkan mantera kutukan.
“Snow White! Ternyata kau ada di sini!”
“Pedagang keliling, eh, nenek penjual sisir, eh, nenek penjual apel, eh, Mama?!”
“Snow White… Mama selalu mendoakanmu, nak. Semoga kamu berbahagia dengan pangeran ini.”
“Mama… Terima kasih banyak.”
“Ratu, maafkan aku yang telah lancang menikahi Snow White. Aku telah menghamilinya…”
“Sudahlah, tidak apa-apa. Aku menunggu cucu pertamaku.”
“Mama?! Jadi mama tidak marah?! Mama memang mamaku yang paling baik!”
“Terima kasih bibi!”
Mereka semua bahagia, termasuk semua warga yang menghadiri pernikahan mereka.
Kalau bisa dibuat bahagia, mengapa memilih ending yang harus-ada-yang-mati?
Dan tidak jauh dari tempat pernikahan itu… Akhirnya… Aku melihat bingkai jendela yang berwarna hitam itu.
Persahabatan
Pagi hari saat aku terbangun tiba-tiba ada seseorang memanggil namaku. Aku melihat keluar. Ivan temanku sudah menunggu diluar rumah kakekku dia mengajakku untuk bermain bola basket.“Ayo kita bermain basket ke lapangan.” ajaknya padaku. “Sekarang?” tanyaku dengan sedikit mengantuk. “Besok! Ya sekarang!” jawabnya dengan kesal.“Sebentar aku cuci muka dulu. Tunggu ya!”, “Iya tapi cepat ya” pintanya.Setelah aku cuci muka, kami pun berangkat ke lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah kakekku.“Wah dingin ya.” kataku pada temanku. “Cuma begini aja dingin payah kamu.” jawabnya.Setelah sampai di lapangan ternyata sudah ramai. “Ramai sekali pulang aja males nih kalau ramai.” ajakku padanya. “Ah! Dasarnya kamu aja males ngajak pulang!”, “Kita ikut main saja dengan orang-orang disini.” paksanya. “Males ah! Kamu aja sana aku tunggu disini nanti aku nyusul.” jawabku malas. “Terserah kamu aja deh.” jawabnya sambil berlari kearah orang-orang yang sedang bermain basket.“Ano!” seseorang teriak memanggil namaku. Aku langsung mencari siapa yang memanggilku. Tiba-tiba seorang gadis menghampiriku dengan tersenyum manis. Sepertinya aku mengenalnya. Setelah dia mendekat aku baru ingat. “Bella?” tanya dalam hati penuh keheranan. Bella adalah teman satu SD denganku dulu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi sejak kami lulus 3 tahun lalu. Bukan hanya itu Bella juga pindah ke Bandung ikut orang tuanya yang bekerja disana. “Hai masih ingat aku nggak?” tanyanya padaku. “Bella kan?” tanyaku padanya. “Yupz!” jawabnya sambil tersenyum padaku. Setelah kami ngobrol tentang kabarnya aku pun memanggil Ivan. “Van! Sini” panggilku pada Ivan yang sedang asyik bermain basket. “Apa lagi?” tanyanya padaku dengan malas. “Ada yang dateng” jawabku. “Siapa?”tanyanya lagi, “Bella!” jawabku dengan sedikit teriak karena di lapangan sangat berisik. “Siapa? Nggak kedengeran!”. “Sini dulu aja pasti kamu seneng!”. Akhirnya Ivan pun datang menghampiri aku dan Bella.Dengan heran ia melihat kearah kami. Ketika ia sampai dia heran melihat Bella yang tiba-tiba menyapanya. “Bela?” tanyanya sedikit kaget melihat Bella yang sedikit berubah. “Kenapa kok tumben ke Jogja? Kangen ya sama aku?” tanya Ivan pada Bela. “Ye GR! Dia tu kesini mau ketemu aku” jawabku sambil menatap wajah Bela yang sudah berbeda dari 3 tahun lalu. “Bukan aku kesini mau jenguk nenekku.” jawabnya. “Yah nggak kangen dong sama kita.” tanya Ivan sedikit lemas. “Ya kangen dong kalian kan sahabat ku.” jawabnya dengan senyumnya yang manis.Akhinya Bella mengajak kami kerumah neneknya. Kami berdua langsung setuju dengan ajakan Bela. Ketika kami sampai di rumah Bela ada seorang anak laki-laki yang kira-kira masih berumur 4 tahun. “Bell, ini siapa?” tanyaku kepadanya. “Kamu lupa ya ini kan Dafa! Adikku.” jawabnya. “Oh iya aku lupa! Sekarang udah besar ya.”. “Dasar pikun!” ejek Ivan padaku. “Emangnya kamu inget tadi?” tanyaku pada Ivan. “Nggak sih!” jawabnya malu. “Ye sama aja!”. “Biarin aja!”. “Udah-udah jangan pada ribut terus.” Bella keluar dari rumah membawa minuman. “Eh nanti sore kalian mau nganterin aku ke mall nggak?” tanyanya pada kami berdua. “Kalau aku jelas mau dong! Kalau Ivan tau!” jawabku tanpa pikir panjang. “Ye kalau buat Bella aja langsung mau, tapi kalau aku yang ajak susah banget.” ejek Ivan padaku. “Maaf banget Bell, aku nggak bisa aku ada latihan nge-band.” jawabnya kepada Bella. “Oh gitu ya! Ya udah no nanti kamu kerumahku jam 4 sore ya!” kata Bella padaku. “Ok deh!” jawabku cepat.Saat yang aku tunggu udah dateng, setelah dandan biar bikin Bella terkesan dan pamit keorang tuaku aku langsung berangkat ke rumah nenek Bella. Sampai dirumah Bella aku mengetuk pintu dan mengucap salam ibu Bella pun keluar dan mempersilahkan aku masuk. “Eh ano sini masuk dulu! Bellanya baru siap-siap.” kata beliau ramah. “Iya tante!” jawabku sambil masuk kedalam rumah. Ibu Bella tante Vivi memang sudah kenal padaku karena aku memang sering main kerumah Bella. “Bella ini Ano udah dateng” panggil tante Vivi kepada Bella. “Iya ma bentar lagi” teriak Bella dari kamarnya. Setelah selesai siap-siap Bella keluar dari kamar, aku terpesona melihatnya. “Udah siap ayo berangkat!” ajaknya padaku.Setelah pamit untuk pergi aku dan Bella pun langsung berangkat. Dari tadi pandanganku tak pernah lepas dari Bella. “Ano kenapa? Kok dari tadi ngeliatin aku terus ada yang aneh?” tanyanya kepadaku. “Eh nggak apa-apa kok!” jawabku kaget.Kami pun sampai di tempat tujuan. Kami naik ke lantai atas untuk mencari barang-barang yang diperlukan Bella. Setelah selesai mencari-cari barang yang diperlukan Bella kami pun memtuskan untuk langsung pulang kerumah. Sampai dirumah Bella aku disuruh mampir oleh tante Vivi. “Ayo Ano mampir dulu pasti capek kan?” ajak tante Vivi padaku. “Ya tante.” jawabku pada tante Vivi.Setelah waktu kurasa sudah malam aku meminta ijin pulang. Sampai dirumah aku langsung masuk kekamar untuk ganti baju. Setelah aku ganti baju aku makan malam. “Kemana aja tadi sama Bella?” tanya ibuku padaku. “Dari jalan-jalan!” jawabku sambil melanjutkan makan. Selesai makan aku langsung menuju kekamar untuk tidur. Tetapi aku terus memikirkan Bella. Kayanya aku suka deh sama Bella. “Nggak! Nggak boleh aku masih kelas 3 SMP, aku masih harus belajar.” bisikku dalam hati.Satu minggu berlalu, aku masih tetap kepikiran Bella terus. Akhirnya sore harinya Bella harus kembali ke Bandung lagi. Aku dan Ivan datang kerumah Bella. Akhirnya keluarga Bella siap untuk berangkat. Pada saat itu aku mengatakan kalau aku suka pada Bella.“Bella aku suka kamu! Kamu mau nggak kamu jadi pacarku” kataku gugup.“Maaf ano aku nggak bisa kita masih kecil!” jawabnya padaku. “Kita lebih baik Sahabatan kaya dulu lagi aja!”Aku memberinya hadiah kenang-kenangan untuknya sebuah kalung. Dan akhirnya Bella dan keluarganya berangkat ke Bandung. Walaupun sedikit kecewa aku tetap merasa beruntung memiliki sahabat seperti Bella. Aku berharap persahabatan kami terus berjalan hingga nanti.
Badai Laut Biru
SIANG itu sangat terik. Matahari membakar pantai berpasir hitam hingga terasa membara. Tiang-tiang layar perahu bagai gemetaran dipermainkan angin dan ombak, hingga perahu-perau tua itu bagai menari-nari di bibir pantai. Namun, kehidupan para nelayan terus berjalan, dalam rutinitas, mengikuti kehendak sang alam.
Di atas pasir hitam, tak jauh dari sebuah perahu yang terus menari, Kardi mengemasi bekal-bekal pelayaran, jala dan kail, juga keranjang-keranjang ikan, lalu menaikkannya ke geladak perahunya. Tiba-tiba ombak besar menghantam dinding perahu, sehingga terguncang keras. Kardi yang sedang berpegang pada bibir perahu hampir terpental.
Karena guncangan itu, keranjang-keranjang yang dia tenteng terlepas dan hanyut terseret ombak. Dengan cepat Kardi mengejarnya dan berhasil meraihnya. Tapi sial, yang tertangkap hanya satu keranjang yang paling kecil. Dengan cepat dan sekenanya dia melemparkan keranjang itu ke perahu, sehingga hampir saja mengenai kawannya yang sedang berdiri di geladak, merapikan letak tali layar perahu dan jaring-jaring ikan.
Melihat Kardi kepayahan, lelaki di geladak itu, Salim, dengan tangkas meloncat ke arah Kardi dan mengambil alih keranjang-keranjang yang dibawanya. Setumpuk keranjang yang kokoh itu memang terasa berat karena basah. Sampai di dinding perahu tubuh Kardi sudah hampir lunglai. Salim melemparkan tumpukan keranjang itu ke geladak lalu dengan kedua tangannya yang kekar dia mengangkat tubuhnya dan meloncat ke geladak. Kardi sudah tidak kuat mengangkat tubuhnya sendiri. Salim kembali membantunya, menarik tangan Kardi sampai berhasil naik ke geladak.
"Pelaut macam apa kau! Baru begitu saja sudah mau pingsan," ejek Salim. Kardi hanya tersenyum pahit sambil terus merebahkan tubuhnya di pinggir geladak.
Perahu mereka sesungguhnya sudah sangat tua. Umurnya kira-kira seusia kapten mereka, Pak Ruslan, yang sudah mengawaki perahu itu sejak 20 tahun lalu. Berawak sembilan orang. Enam orang lelaki dewasa, dua orang anak lelaki dan seorang gadis-anak Pak Ruslan-sebagai tukang masak. Panjang perahu kira-kira dua puluh dua meter dengan lebar kira-kira enam meter. Memiliki layar putih yang sudah mulai kecokelatan dan sudah banyak tambalannya, namun mereka belum sempat menggantinya dengan layar yang baru.
Kardi masih berbaring di pinggir geladak ketika ombak semakin ganas menghantami dinding perahu. Dia bagaikan tidur di pinggir ayunan yang lebar dan hangat, membiarkan panas matahari menyengati kulit tubuhnya yang cokelat kehitaman. Seolah dia sudah biasa dibakar sinar matahari seperti itu. Dia sudah tidak pernah lagi ingin memiliki kulit tubuh yang kuning seperti ketika masih sekolah di SMA dua tahun yang lalu.
Kardi masih ingat betul ketika itu memiliki kulit tubuh yang kuning dengan perawakan tinggi dan wajah simpatik. Dia masih ingat betul, ketika itu diperebutkan beberapa gadis yang tergolong berwajah cantik. Dan, dia masih ingat betul ketika berpacaran dengan gadis keturunan Tionghoa, teman sekelasnya. Namun, semuanya telah berlalu bersama kegagalannya meraih cita-cita masuk Akabri. Bersama hilangnya warna kuning kulitnya. Direnggut sang waktu.
Selama dua tahun dia pun berusaha mencari pekerjaan yang layak sesuai dengan ijazahnya, namun hasilnya nihil. Kemudian atas anjuran ayahnya, Kardi ikut menjadi awak perahu milik sang ayah sampai sekarang. Kini dia pasrah saja pada kehendak alam, kehendak sang nasib, kehendak waktu. Akan menjadi apa dia kelak, akan seperti apa kulit tubuhnya, dia pasrah saja. Sedangkan Salim adalah anak pamannya yang bernasib sama, gagal masuk perguruan tinggi negeri dan gagal mencari pekerjaan kantoran.
"Angkat sauh, kita akan segera bertolak!" seru Pak Ruslan dari haluan.
Kardi kaget dan segera bangkit. Dia melihat seseorang telah terjun ke air dan segera melepaskan tali perahu yang terikat pada tonggak di bibir pantai. Kardi segera membantunya dengan menarik tali itu dan menaikkannya ke geladak. Di cakrawala utara tampak mendung hitam bergumpalan. Angin bertiup sedang dari arah barat laut. Tapi, matahari masih tampak bersinar, condong ke ufuk barat.
Dayung-dayung berkecimpung dan perlahan-lahan perahu tua itu meninggalkan daratan melaju ke arah timur laut, semakin ke tengah dan terus ke tengah.
"Kembangkan layar! Angin sudah mulai lambat dan akan berganti arah," teriak Pak Ruslan.
Seorang awak perahu memanjat tiang layar, melepaskan tali pengikat. Salim bersama seorang awak perahu yang lain melepaskan tali layar bagian bawah, Kardi siap dengan merentangkan tali layar membentang ke haluan. Perlahan-lahan layar pun mengembang lalu tertiup angin ke samping kanan. Parahu menjadi tidak seimbang dan miring. Dengan refleks para awak perahu mencari keseimbangan.
"Belokkan haluan ke kanan!" teriak sang kapten lagi.
Juru mudi segera menekankan sirip kemudi melawan arus air di sebelah kanan ekor perahu. Kardi dan Salim membetulkan letak layar dengan menarik tali-talinya. Perahu pun perlahan-lahan membelok 60 derajat ke kanan, kemudian melaju dengan tenang.
Jala-jala yang berwarna biru tua mulai diturunkan. Begitu pula beberapa kail yang telah disiapkan. Kail-kail itu masing-masing diberi pengapung sepotong kayu agar tidak tenggelam ke dasar laut. Jarak antara pengapung dan kail sekitar satu meter. Masing-masing diberi umpan sepotong ikan kecil. Biasanya ikan belanak atau udang. Apabila ada ikan yang memakan umpan, kayu pengapung akan terlihat tertarik-tarik timbul tenggelam di permukaan air itu tertarik menurut larinya ikan.
Tarikan dan gerakan pengapung itu kadang-kadang cepat dan keras, kadang-kadang lemah dan perlahan, tergantung pada jenis dan besar kecilnya ikan. Ikan kakap biasanya menarik umpan dengan cepat dan keras. Ikan tongkol dan ikan tengiri suka memakan umpan dengan menghentak-
Minggu, 06 Mei 2012
Romantica de Maya
PART 1
Jam menunjukkan pukul 11.00 malam. Bibirnya menguntum senyum bila seseorang yang dinanti sejak semalam telah active five!. Pantas hujung jarinya klik pada nick yang tertera..
Romeo: “Hi.. Juliet, how are U? dari semalam I tunggu U tau! Mana U pegi nih!?” laju jemarinya mengetuk papan keyboard menyapa pelayar disebelah sana.
Juliet: “Haloo... Sori I busy semalam dan ngantuk sgt! Lama ke U tunggu?” ringkas jawapan yang diberi.
Romeo: “Busy sgt ker? Sampai tak bleh nak online sekejap?”
Dia rasa macam tak puas hati. Geram pun ada.
Juliet: “Betul. I busy. Malam I pengsan! Tak bleh dah nak angkat mata!”
Romeo: “Bosan tau I semalam tak dapat chat ngan U.. frust!”
Juliet: “Aik, kan ramai chatters U bleh sembang? U kan Romeo? Kurang hilang U punya bosan..”
Romeo: “Tak sama mcm I sembang ngan U!.. yang lain tuh semua cam hampeh jer! Semua gedik! Nyamfah!”
Juliet: “Amboi, tak baik U nih suke rasa hati jer kutuk orang.. agaknya I pon U kutuk samakan?”
Romeo: “Tak. U lain! I like U!..”
Juliet: “Hmm.. ok arr Romeo.. I terpaksa out! my sister nak guna phone..”
Romeo: “Ala.. I blum puas lagi chat ngan U.. cam nak ngelat dari I jer?..”
Juliet: “Tak la. Sungguh sister I nak guna phone! Esokkan masih ada darling.. be cool bebeh.. (ikon kenyit mata) ”
Perghh ayat membunuh jiwa lelakinya!
Romeo: “U nih buat I…”
Senyumnya dah sampai ketelinga.
Juliet: “Buat apa?? Hah dah jangan nak pikir mcm2 arr.. Good Nite!”
Juliet: “Quit.”
Ceh! Dia ketap bibir geram.. Minah nih bisa buat aku jadi gila! Danial menggaru bawah dagunya yang gatal. Selalu Juliet meninggalkan dirinya dengan penuh tanda tanya dan membuatkan dirinya hari-hari rasa teruja!. Bagaimanakah rupa dia agaknya? Apa pekerjaannya? Berapa umurnya? Apa statusnya? Berbagai persoalan bermain dikepalanya. Gadis itu terlalu banyak berahsia dengannya. Arghh.. aku tak kira! Aku akan bongkarkan siapa dia sebenarnya!. Kemudian dia sengih macam orang sengal!
PART 2
“Sofea.. bungkuskan adik nih mee hoon goreng 2..” Dia pantas menurut arahan Kak Longnya.
“Sambal lebih kak..”
“Ok, RM2 jer..” Duit dan mee hoon bertukar tangan.
Pagi-pagi begini ramai pula pelanggan yang datang ke gerai Kak Longnya. Tak menang tangan Sofea dibuatnya.
“Cik.. nasi lemak sambal sotong satu! Sambal lebih! ”
Tanpa memandang wajah peminta, pantas tangan Sofea membungkus nasi lemak yang diminta.
“Berapa?” Mata pemuda itu memandang tepat kedalam anak mata Sofea. Berderau kejap darahnya.
“RM2.50..” Pemuda itu menghulurkan not RM1 tiga helai.
“Keep the change!” Pemuda itu kenyit mata padanya kemudian berlalu dengan kereta Alfa Romeonya.. memancar kilat colour orennya!..
Nakalnya dia.. gaya bleh tahan! Perghh debomb!! Memang tip top! Terpukau Sofea dengan reaksi spontan pemuda yang baru berlalu. Sejak akhir ini rajin pula dia tenguk pemuda itu membeli nasi lemak disini. Nak tenguk aku kot?? Dia dah mula perasan!
“Amboi.. gatalnya dia..” Tak semena pinggangnya diketil dari belakang!
“Apa ni Kak Long? Adoii.. sakit la..” Sofea mengaduh kecil. Berbisa sungguh sepit ketam yang baru dia terima.
“Cover sket .. awak tu perempuan..” Kak Longnya ketap bibir geram.
Sofea sengih. Dua tiga orang budak yang menunggu giliran senyum-senyum pandang dia. Ishh.. aku belasah jugak bebudak nih!
“Tu.. bungkus kueh koci RM1 bagi pada adik tu..” Kak Longnya mengarah.
“Yes, mem!.”
Wajah pemuda Alfa Romeo lenyap dari mindanya..
PART 3
Line connected..
Juliet: “Sorry ya?.. server slow!.. dimana kita tadi?”
Sofea sambung berchatting dengan Romeo. Dua tiga kali dia login internet. Agaknya time begini ramai yang bertenet! Pasal tu server lembab giler!
Romeo: “So k. hmm.. tadi kita bual pasal job.. Anyway Juliet. Boleh I ask U something?”
Juliet: “Ok..”
Romeo: “Bila U nak beritahu I tentang diri U yang sebenar? Tak pun U bagi no.phone U ker.. Boleh kita bual secara live di phone. Penat lah I asyik taip je.. I nak gak dengar suara U yang lemak merdu tu..”
Amboi.. amboi.. si Romeo nih! Sofea sengih.
Juliet: “U dah penat ker? Ok arr I out! Yer la siapa la kite ni kan?”
Sofea sengaja taip ayat merajuk.
Romeo: “Sorry!.. I tak bermaksud begitu. Kita dah lama chatting.. Kalau boleh I nak kenal diri U lebih dalam lagi.. I tak faham la.. Why U masih nak berahsia!. I bukan nak jaja pon no phone U atau apa-apa ttg U kat semua orang.. I ikhlas nak kenal U!”
Pergh!! Mamat nih.. serius semacam jer.. adoii..
Juliet: “Sori Romeo... Belum tiba masanya lagi. Sabar menanti ya?”
Romeo: “Juliet... please trust me!.”
Juliet: “SECRET!” .
Sofea ketawa mengekek. Agaknya mesti bengang gila si Romeo disebelah sana.
Romeo: “ Please Juliet.. I tak tahu kenapa.. Tapi I dapat rasa suatu perasaan aneh yang susah I nak terangkan bila chat dgn U.. I’m fall in love.. I love U Juliet!!”
Juliet: “WHAT??!”
Ayo mak kadawalei.. soram sojuk Sofea membaca ayat yang terpapar diskrin. Iee seramm!
Line disconnected.
Arghh.. malas Sofea nak login semula. Mesti Si Romeo bengang gila menunggu dia online semula. Entah iya entah tidak. Malas fikir panjang, Sofea off computer dan rebah atas katil. Bukan niat Sofea nak permainkan Romeo. Dia buntu!. Menerawang jauh dia memikirkan kata-kata Romeo. Ikhlaskah kata-katanya? Selama ini dia tidak pernah bertanya apa apa tentang diri Romeo. Wajah dia pun Romeo tak pernah lihat? Masakan Romeo punya perasan begitu padanya?. Adoii.. sakit kepala.. setakad ini bagi Sofea, cinta pada Romeo belum ada.. tapi suka tu ada.. err.. betul ker??.. senyuman Sofea melebar. Akhirnya dia dibuai mimpi.
PART 4
Juliet: “Offline”
Seminggu sudah berlalu.. Resah gelisah hati Danial menanti Juliet ke udara dalam laman cyber.. Dalam seminggu tu jugalah hidupnya serba tak kena. Penangan cintanya pada Juliet. Dia tak kisah siapa pun diri Juliet. Dia tetap terima. Cinta tak kenal siapa! Dan cinta itu sememangnya buta! Gabungan Romeo dan Juliet seakan serasi bagai sebuah kisah lagenda cinta sejati. Oh, Juliet sayangku.. jelmalah kau… fuhhh..
Juliet: “Online”
Yes!! Rasa nak melompat dia dibuatnya!.. Terima kasih Ya Allah!..
Romeo: “Hi Juliet.. why lama hilang? Marahkan I ker?”
Juliet: “Sori Romeo. I balik kampung. Tak la.. I tak marah U pun. Sebenarnya hari tu I terpukau tau!.”
Romeo: “I tau U gelak kat I.. mesti U ingat I nih crazy!”
Juliet: “I tak kata pun.. U yang selalu pikir bukan-bukan..”
Romeo: “Macam manalah I tak pikir bukan2.. U tu banyak berahsia dari I !! why balik kampung? Ada orang minang U ker?”
Tiba-tiba Danial disapa cemburu.
Juliet: “Tak la.. saja nak tenang fikiran…”
Romeo: “Tentang apa??”
Juliet: “Laa.. tentang kita la..”
Berdebar-debar jantung Danial.
Romeo: “Maksud U?”
Juliet: “Ok.. malam ni I nak buka kunci tentang diri I.. dan U pun kena buka identiti U yang sebenar! Amacam?”
Wajah Danial sudah melebar senyum.
Romeo: “Sure?? I takut U ngelat! U kan banyak agenda??”
Juliet: “Aik, tak percaye yer? So k.. I tak kisah.. terpulang..”
Romeo: “Ok.. ok.. I percaya..”
Tup! Black-out!
Arghhh… tensionnyaa aku! Kenapalah time begini letrik mati plak! Cisss… dush! dush! .. Danial gigit jari!
PART 5
“Sofea tempat yang kamu temuduga semalam tu apa cerita?”
“Dia kata akan call Abang Long.. entahlah.. harap dapatlah..”
“Kamu tu Pea.. sembahyang jangan patuk-patuk ayam.. minta doa dan petunjuk pada Tuhan agar mudah segala permintaan.. apa yang kamu nak.. rajinkan diri tu buat solat sunat.. Jangan nak bertenet jer kerjanya!” Kak Long dah start ceramah percuma.
“Iyalahh.. “
Adoii.. bisa berbisa telinga Sofea. Satu hari kalau tak kena ceramah percuma dari Kak Longnya tu memang tak sah! Macam manalah Abang Longnya tu boleh tahan dengan Kak Longnya itu?. Oppss.. lupa.. Abang Longnya tu ustaz sekolah rendah! Kekadang Abang Longnya juga dua kali lima juga dengan Kak Long!..
Sofea membantu mereka berdua memasukkan bekas-bekas jualan nasi lemak yang bersisa kedalam bonet Wira sedan Abang Longnya. Bila hari minggu Abang Longnya memang rajin datang menolong apa yang patut. Beruntungnya Kak Long!
“Kak Long dengan Abang Long balik dulu.. kamu jangan nak merayap tak tentu hala..”
“La nak merayap apa pula Kak Long? Kita menunggang la..” Sofea sengih. Ishh dia ingat aku ni budak kecik lagi ker?
Aik, apasal motor nih tak bleh start plak? Termegah dia nak menghidupkan enjin Krissnya. Tanpa sedar dia diperhatikan seseorang..
“Hi..” Terkejut beruk dia!. Nasib tak melatah.. kalau tidak jatuh sahamnya! Bila masa pulak mamat Alfa Romeo nih tercegat kat sini? Siap berpakaian sukan lagi tu. Lama dia tak nampak mamat nih!
“Err.. sori la bang.. nasi lemak dah habis! Datang besok ajelah!” Sofea cuba berlagak selamba. Perghh! Dalam hati tuhan aje yang tahu.
“So k.. kenapa motor tu? Tak boleh start ke? ..” Pemuda itu rapat kepadanya. Alahai.. cover cun...
“Entahlah.. kena angin kus-kus gamaknya!” Sofea cuba seloroh. Pemuda itu tersenyum. Ya Allah indahnya ciptaan Tuhan!
“Mari saya cuba..” Handle Kriss bertukar tangan. Sofea hanya memerhati kesungguhan pemuda itu mahu membantunya. Bertuahnya badan..
“Saya rasa plug dia haus kot! So, macam mana nih? Nak saya call pomen repair moto awak?..” Elelele.. baiknya dia..
“Err.. tak pelah.. thanks sudi bantu...”
“Oh lupa.. saya Danny!”
“Sofea..” Dia ukir senyuman.
“Ohh.. Sofea.. so sweet..” Memerah malu pipi Sofea dipuji begitu.. ceh! Saje jer dia nih buat aku prasan! Motor kriss dia kunci. Nanti biar Abang Longnya yang uruskan!. Dia ingin menapak pulang kerumah.
“Mari saya hantarkan..”
“Tak pelah.. segan saya nak naik keta mewah awak tu..” Kakinya sudah mula melangkah.
“Jangan segan.. saya bukan Ah Long, saya ikhlas nak tolong..”
Aik, siap boleh melawak lagi dia nih?
“Pleasee..”
Ishh.. dia ni.. Tanpa sedar kaki Sofea mencecah masuk kereta Alfa Romeo Danny! Adoii.. apa yang aku lakukan ini?.. Wahh, wanginya kereta diaa.. Ketika ini jiwanya seperti melayang-layang..
PART 6
Lama sudah Danial tidak mendengar berita tentang Juliet kekasih mayanya. Sejak berkawan serius dengan Manis dia tidak rajin active five di MIRC. Masanya lebih banyak tertumpu pada kerja dan Manis. InsyaAllah kalau tiada aral melintang pertengahan bulan Februari mereka akan mengikat tali pertunangan langsung menikah terus. Nama Juliet seakan telah hilang. Hari ini dia mahu berterus-terang dengan Juliet. Dia tidak mahu mempermainkan hati Juliet. Terpulang pada Juliet untuk menilainya..
Jam tepat pukul 11:30 malam. Danial sabar menanti kemunculan Juliet. Tiba-tiba..
Juliet: “Online”
Romeo: “Hi.. how are U?”
Juliet: “Fine.. TQ!”
Juliet: “Sori lama tak online..”
Danial garu kepala. Sepatutnya dia yang berkata begitu. Mungkinkah Juliet juga sudah lama tak online? Selepas peristiwa black out hari tu memang dia dah tak login internet. Selalu dia kena pergi out station. Memang tak ada masa nak bertenet. Kalau sempat pun check email jer.
Romeo: “So k.. I pun.. baru hari nih on air..”
Juliet: “I see..”
Romeo: “Hmm.. I ada berita nak beritahu U.. hope U tak marah..”
Juliet: “I pon.. I harap U tak kisah.. dan berlaku jujur dengan I.”
Romeo: “Ok.. U mula dulu..”
Berdebar jantung Danial saat ini.
Juliet: “Betul ker U cintakan I?”
Bulat mata Romeo membaca ayat di skrin. Dia teguk air liur.
Romeo: “Yup… tapi dulu.. sekarang tidak lagi.. Sori.. I tak bermaksud nak lukakan hati you.. permainkan U.. segalanya berubah setelah kemunculan dia.. kami dah nak menikah!”
Beberapa minit berlalu. Juliet tetap senyap tanpa balasan.
Romeo: “ I’m sorry..”
Lima minit berlalu lagi.. Ya Allah dia menangis ker? Danial semakin resah.
Romeo: “Juliet??”
Juliet: “Sori.. my sis panggil tadi.. So, U sekarang sudah ada special gurlprend la yer? Tahniah!”
Laa.. ciss, Danial rasa cam nak tumbuk dinding jer!!
Romeo: “U tak sedih?”
Juliet: “Nak sedih buat apa.. kira I terselamat! Dari mangsa buaya romeo U! Hehehe..”
Minah nih betullah buat aku gila!.. ker hatinya keras macam batu? Danial ketap bibir geram!
Romeo: “So, U macam mana sekarang?”
Juliet: “I pon macam U jugak.. Sori ya?.. I selalu usik U.. InsyaAllah I bakal jadi isteri orang tak lama lagi.. Doakan I ya?”
Romeo: “Aik?.. samalah pulak kita ya? So U tak mau buka secret key U pada I? hari tu waktu kita nak open identiti rumah I black out.. pastu bersambung dengan kerja out station.. tak free nak online..”
Juliet: “Haha.. sama ler.. apa ke halnyer kita nih asyik sama jer eh?”
Romeo: “Betul la I pun heran?.. kita dah serasi.. tapi jodoh tak adakan?.. mungkin perancangan Allah lebih sempurna dari apa yang kita rancangkan?..”
Aceceh.. ayat skema habis!
Juliet: “Yup.. so, U nak tau gak ker siapa I?”
Romeo: “Of course.. tak dapat buat bini, buat bestfriend pun ok! Lagi pun I tak ada bestfriend gurl..”
Juliet: “La.. gf U tu bleh buat bestfrend apa? Lagi akrab!”
Romeo: “Maksud I, selain dia I tak ada bf gurl yang lain! So, lekas arr.. dah tak sabar I nih.. tunjuklah picture sebenar U!”
Juliet: “Tak nak! Kita jumpa.. face to face! Ok tak?”
Amboi diaa.. Danial menguntum senyum. Oh la la.. Camna la rupa dia? Adakah seayu dan sebrutal Manis? Ishh tak sabar pula dia.
Romeo: “Betul nih? Kat mana kita nak jumpa?”
Juliet: “Ok.. pernah dengar Wanie’s Corner? Jalan Burung Tempua?.. Bandar XX?”
Romeo: “Oh.. God! I selalu lepak situ.. U duduk area situ ker?”
Juliet: “Tak.. esok I tunggu U kat situ tepat pukul 2! Jangan lewat!”
Romeo: “Bagilah no phone senang nak call U..”
Juliet: “Tak boleh.. selagi belum jumpa U, segalanya rahsia!”
Perghh!! Minah nih memang sentiasa buat aku teruja!.. Danial makin geram dibuatnya.
Romeo: “Macam mana I nak kenal U? mana tau U tipu I ker? I macam boleh baca jer apa yang ada dalam kepala U tu..”
Juliet: “Betul.. I tak tipu! Ok, I pakai baju kaler biru. Bertudung. Aiseh..my sis dah bising la.. Jumpa disana!”
Juliet: “Quit”
Erkhh?? Dia nih tak mau tahu ker aku nih orang yang macam mana?.. Haiya pusing kepala Danial memikir tentang Si Juliet!
PART 7
1:30 PM
Sofea debar menanti kemunculan Romeo. Sepatutnya hari ni dia keluar date dengan Danny. Semalam dia terpaksa berbohong dengan Danny mengatakan mahu keluar dengan Kak Long membeli kain langsir. Kebetulan Danny juga ada urusan. Wahh.. best tu.. line clear!. Sengaja Sofea pilih Wanie’s Corner sebagai tempat blind date dia dengan Romeo. Sekurang apa-apa hal yang berlaku.. Dia boleh selamatkan diri. Dia juga dah berpakat dengan Kak Leha pekerja WC!
“Mananyer budak Romeo kamu tu Pea? Tak sampai-sampai lagi..”
“Sabarlah Kak Leha.. belum pukul 2 pun.. ishh.. akak nih berdebarnya mengalahkan kita pulak!” Sofea membetulkan duduknya. Aduh.. apahal jantung dia berdegub kencang nih?
“Eh? Pea.. tu macam Danny jer?”
Tersentak Sofea bagai kena renjatan elektrik! Menunduk wajahnya diceruk dapur.
“Alamak.. Kak Leha macam mana nih? Matilah saya!” Seram sejuk jari jemari Sofea. Sungguhpun dia belum melihat Danny marah, tapi dia takut hari ini bakal mengundang kemarahan Danny!
“Kau ni pun satu Pea.. dah tau tempat nih kau dengan Danial selalu dating, awat pi ajak Si Romeo kau tu jugak kesini? Cari nahas jer budak nih!” Kak Leha geleng kepala.
“Tempat lain mana ler saya tau kak.. tempat ni jer yang saya rasa best dan selamat..” Sofea sengih.
“Iyolah selamat.. kejap lagi jadi Kassim Selamat!”
“Manalah saya tau dia nak datang sini.. semalam dia beritahu ada kerja lebih masa..” Sofea gigit jari. Sempat ekor matanya menjeling jam dipergelangan tangan lagi. Angka menunjukkan lagi lima minit hendak ke pukul 2 petang. Debaran jantungnya kuat terasa. Tenang.. tenang..
“Ok, dia dah pergi dah.. line clear..” Kak Leha kenyit mata.
Sofea cari tempat tersorok sikit dari tumpuan umum tapi dekat dengan tempat Kak Leha bekerja. Dalam pada beraninya dia ada gak terselit perasaan takut! Uishh.. sape tak takut weii.. mana ler tau Si Romeo tu perogol bersiri ker? Tak ker naya dia.. Nasib dalam WC ni hanya dia yang memakai baju kaler biru dan bertudung. Tak susah untuk Romeo mencarinya!
Kak Leha dah bagi isyarat kelip-kelip mata! Muka dia plak dah herot merot macam makan asam kecut.. apahal pulak Kak Leha ni? Kena sampuk ker? Sofea naik pelik bin ajaib! Erkhh.. dia dah sampai ker?
“Hi Juliet!”
Erkhh.. suara itu macam pernah ku dengar.. dia berpaling.. Makkk!! Hampir melompat Sofea dari tempat duduknya. Danny tercegat depan mata! Dia pun turut sama terkejut!
“Sofea?” Membulat mata Danny.
“Abang?.. err.. Romeo??”
“Sofea?.. Juliet??” Mulut Danny dah ternganga.
“Oh, my GOD!!..” Danny dah tepuk dahi! Sofea pula dah sengih sampai ke telinga.. Aduss.. kantoi la pulak!
“Oo.. inilah budak Juliet tu ye? Eii.. geramnya saya dengan Juliet tuh!” Pipi Sofea dicubit Danny.
“Sakitlah!”
Maka berlakulah adegan pukul memukul dan kejar-mengejar ala romantika de amor antara mereka berdua. Kemudian masing-masing terburai ketawa. Kak Leha yang memandang hanya geleng kepala.
PART 8
Danial membuka pintu kamar beradu raja seharinya. Cantik terhias.. sesekali aroma wangian dalam kamar itu menyucuk lubang hidungnya. Alhamdulillah dia dan Sofea kini telah sah menjadi suami isteri. Bila mengenangkan kisah dua bulan lepas di Wanie’s Corner memang hendak terputus urat perutnya. Siapa sangka Juliet yang penuh rahsia di alam maya adalah Sofea! Tersenyum-senyum kambing dia mengingati kisah yang terjadi. Betullah kata orang, kalau dah jodoh tak kemana! ikan dilaut, asam didarat dalam belanga bertemu jua..
Segera dia menghampiri Sofea yang sedang menyisir rambut didepan cermin solek. Bersinar-sinar matanya memandang tubuh isterinya. Jiwa lelakinya bergetar hebat tika ini.
“Abang rasa bahagia sangat tau…” Bahu isteri diurut mesra.
“Hmm?” Sofea menjeling melirik manja menggoda.
“Abang nakk…” Danial senyum nakal.
“Tak boleh! Malam nih Juliet bulan mengambang penuh arr Bang Romeo.. kena puasa!”
“Ala.. tak kira nak jugaaaa…” Pantas dia mendakap Sofea. Tapi cepat dielak Sofea.
“Tak boleh! Tunggu selepas 7 hari!.. Lagi pun.. takkan lari gunung di kejar sayangg..” Cepat Sofea menarik selimut tutup seluruh tubuh dan mematikan diri.
Ciss.. selalu saja nafsunya tersekat! Jiwanya teruja hebat!..
Cerpen: Gadis di sudut itu
Pertemuan pertama di Art Case Gallery masih segar di ingatannya. Mataku terpana memerhatikan gerak geri gadis itu, gemalai langkahnya tersusun satu persatu. Aku pasti yang aku tak pernah melihat gadis ini berkunjung ke mana-mana galeri lukisan lain mahupun galeri milik Raja Azhar Idris, pelukis terkenal di Malaysia ini.
Gerak gerinya juga nampak agak canggung, “Barangkali ini kali pertama dia mengunjungi galeri lukisan”, otakku meneka sendirian. Aku mengorak langkah, menghampirinya yang masih asyik merenung lukisan di depannya.
“Maaf mengganggu, tapi apa yang kau nampak dari lukisan ini?”, aku memulakan bicara, menanti reaksi darinya. Matanya masih menatap lukisan bertajuk ‘Beware’ tanpa menoleh ke arahku. “Ehem..ehem”, aku mencuba lagi mengalih perhatiannya. Kiranya percubaan kali kedua ku berjaya...
“Saya tak pandai mentafsir lukisan sebab saya bukan pengkritik seni ataupun pengumpul karya lukisan. Tapi saya tahu ada banyak cerita tersirat di sebalik lukisan ini. Banyak persoalan muncul, erm..contohnya apa pakcik tu buat kat taman permainan..kenapa selipar budak ni tinggal sebelah je?” …aduh, panjang bicaranya, lancar bibirnya berkata-kata, namun matanya masih belum singgah ke wajahku.
“Kau peminat Abdul Latif Maulan?” tanya ku lagi.
“Siapa?” soalnya kembali.
“Pelukis untuk lukisan-lukisan yang kau tengok di pameran hari ni” aku menjawab, nada suara ku sedikit jengkel kerana agak sensitif apabila pelukis pujaanku seperti diperlekehkan oleh gadis ini.
Dia menoleh sejenak ke arahku lalu matanya menatap risalah di tangannya yang tertulis‚ ’ABDUL LATIF MAULAN: PARALLEL UNIVERSE ~ FIRST SOLO EXHIBITON 7 June 2006 -16 July 2006’, setelah terarah oleh jari telunjukku.
“Oh, sebenarnya housemate saya yang hadiahkan tiket ini sebagai hadiah hari lahir, sebab tu saya datang. Saya kena berterima kasih dengan dia, hadiah ini mungkin hadiah paling tak ternilai dalam hidup saya”, luahnya jujur.
Aku merasakan kejujuran itu terpancar dari wajah kudusnya. Wajahnya tidak secantik Erra Fazira, bicaranya tidak selembut Siti Nurhaliza, suaranya juga tidak semanja Ella, tapi ada aura pada dirinya menarik aku untuk lebih mengenalinya. Dia melangkah pula ke lukisan ’Silhoutee Journey’, lama dia merenung lukisan itu. Aku tak berniat mengganggunya lalu aku mengambil keputusan berdiam,memberinya masa menilai karya itu. Bergenang kelopak matanya, cepat-cepat dia menyapu setitis air mata yang mengalir di pipinya apabila tersedar yang aku masih di sebelahnya.
“Ini lukisan tentang kes realiti yang pernah jadi dulu kan?” tanyanya merujuk kepadaku. Aku mengangguk setuju. Paparan seorang wanita berseorangan di dalam bas, dan bayang-bayang hitam di bahagian tempat duduk belakang seperti sedang merenungnya tajam. Satu keluhan panjang kedengaran,“tak baik mengeluh“,aku menegurnya.
Kekaguman terbit lagi dari hatiku.? Bukan calang-calang orang mampu mentafsir karya ini kerana karya Abdul Latif Maulan biasanya dikaitkan dengan sesuatu tersembunyi di sebalik yang nyata di mata.
Dia tersenyum manis, menampakkan lesung pipit di pipi kirinya. Sungguh aku tak pernah merasakan tarikan sebegini, malah gerakan jari jemarinya membetulkan tudung di kepalanya pun nampak indah di mataku sehingga aku merasakan seperti mendengar alunan suara Ray Charles menyanyikan lagu What A Wonderful World.
Mabukkah aku hasil air setan yang aku teguk malam tadi?. “Gadis ini biasa saja, tiada yang menarik lalu mengapa aku mengaguminya?”, suara hatiku bermonolog sendiri.
Aku mencuri pandang lagi pada wajahnya, kulitnya putih kuning, hidungnya tidak mancung tapi tidak juga penyek, badannya tidak kurus tapi tidak juga gemuk, penampilannya tidak terlalu bergaya tapi tidak juga terlalu kekampungan...mungkin kesederhanaannya yang memikat. Aku memejam mata, cuba memahat wajahnya dan gayanya kukuh di ingatanku, agar dapat aku abadikan ke layar kanvas selepas ini.
Aku membuka mata, dan dia telah tiada di depanku. Cepat-cepat aku berlari mencarinya sehinggakan aku hampir terlanggar Shahimah, isteri pemilik galeri ini. Tak mungkin sepantas itu dia hilang. Akhirnya aku terpandang gadis itu di satu penjuru galeri, sedang menjawab telefon. Barangkali tidak mahu mengganggu tumpuan pengunjung lain lalu dia memilih penjuru sunyi itu. Ku potretkan detik itu di mindaku, mencurah-curah ilham untuk mengabadikan gerak geri gadis ini. Usai menjawab panggilan itu, dia bergerak terus ke pintu keluar. Aku berlari lagi,mengejarnya yang semakin jauh dari pandangan.
Aku menarik tangan kirinya sebelum dia melintas jalanraya, dia menoleh pantas dan tangan kanannya juga pantas menampar pipiku. Berpijar dan panas aku rasakan..rasa pekak sekejap gegendang telingaku, mengalir darah merah di penjuru bibirku. Wajahnya serba salah sebaik dia sedar niatku untuk mengelakkan dia dari menjadi mangsa ragut lelaki bermotosikal yang hampir-hampir berjaya meragut tas tangannya.
Lelaki jahanam itu pantas memecut laju, menyelit di antara deruan kenderaan lain yang bertali arus. “Takpe, aku ok’, aku bersuara cuba meredakan kegusarannya.
“Maaf awak, saya tak perasan, saya ingat orang yang berniat jahat tadi’, jawabnya yang barangkali masih terbawa-bawa dengan bebanan perasaan dari lukisan Silhoutee Journey tadi. Aku menyambut huluran tisu dari tangannya, terpandang jari jemarinya, “erm...takde cincin lagi“, gumamku sendirian.
“Apa?”, tanyanya.
“Erm..kenapa kau nak cepat-cepat balik?. Banyak lagi karya yang kau tak tengok” aku menyoal tanpa menjawab soalannya tadi.
“Saya ada hal sikit, tapi saya akan datang lagi bila ada masa. Lagipun pameran ni sampai hujung minggu depan kan? Insya Allah, panjang umur, ada kelapangan saya akan datang lagi”, jawabnya sopan dan dia mengatur langkah ke tempat letak kereta. Dia menoleh sekilas ke arahku, “terima kasih banyak-banyak”, ucapnya lalu melangkah terus dan hilang dari pandangan mataku.
Aku masih terpaku di situ, terpesona dengan gerak gerinya sehinggalah aku tersedar dari lamunan bila bahuku ditepuk pensyarahku Suzlee Ibrahim. Beliau merupakan insan yang pernah bertanggungjawab membentuk bakatku sewaktu masih menuntut di Fakulti Seni Lukis dan Seni Reka, UiTM.
“Dah habis mengkaji lukisan Latif ataupun Ayie dah dapat ilham untuk pameran solo sendiri pulak?” tanyanya seperti dapat menuras isi hati ku ketika itu. Aku sengih sambil melangkah kembali ke dalam galeri, aku mau berlama-lama di sana, mengorek seberapa banyak ilmu yang mungkin aku boleh dapatkan dari pelukis-pelukis hebat lain.
Minggu ini aku habiskan masa di galeri ini, menikmati dan menelaah hasil karya pelukis kontemporari yang aku kagumi. Aku melukis apa yang aku lihat, aku tak mampu menjadi pemikir yang tersirat seperti Latif yang mampu merakam dua warkah berbeza dalam setiap karyanya, tapi aku punya sedikit anugerah kurniaan Yang Esa, lalu aku gunakan untuk menyuarakan isi hatiku dengan coretan warna dan palitan garisan membentuk wajah di atas kanvas.
Kalau orang seusia aku mengagumi bakat Mawi, Yusry, Adam, Sofaz,Kristal ...rasanya aku lebih mengagumi bakat Yusof Ghani, Prof. Datuk Raja Zahabuddin Raja Yaacob, Raja Azhar Idris, Muid Latif, Ahmad Shukri Elias, Prof. Madya Ramlan Abdullah, Intan Rafiza, Khalil Ibrahim, Ismail Latif dan ramai lagi pelukis-pelukis Malaysia yang hebat.
Karyaku lebih tertumpu kepada kehidupan kotaraya seperti ’my mom and I’(sepasang ibu dan anak membeli belah), ’how do he got it?’( lelaki muda berkereta mewah), ’60’s sibling’(sekumpulan adik beradik pencinta lagu 60-an sedang bermain gitar),’anak ikan’ (gelagat gadis muda di temani lelaki tua) dan ’gothic or ska or punk or i’m confused?’(kerenah belia sekarang dalam berfesyen) antara lukisan-lukisan yang pernah aku hasilkan.
Aku duduk di penjuru dinding yang pernah gadis itu berdiri. Cuba mengutip kembali sedetik memori itu, jariku pantas melakar nukilan itu di kertas putih ditanganku. Balik rumah nanti akan ku pindahkan lakaran awal ini ke kanvas besar. Aku ke galeri ini saban hari, masih menunggunya dengan harapan, kadang-kadang terasa diri ini dungu, tak mampu bertanya nama nya. Hari ini hari terakhir pameran ini.
Aku sudah menyiapkan sepuluh keping lakaran gadis itu di berbagai sudut galeri ini, lakaran gadis itu di jalanraya, lakaran tamparannya di pipiku, senyuman manisnya..aduh,aku diserang angau. Menanti sesuatu yang tak pasti, namun sekurang-kurangnya aku mampu berkarya kembali. Karya terakhir yang aku hasilkan sebulan lalu masih mampu menanggung hidup bujangku.
Aku terkesima, diakah itu? Baju kurung biru bermotif bunga-bunga kecil menyerlahkan keayuannya. Jari ku pantas lagi melakar dan memotret gerak gerinya. Aku membiarkan dia menikmati lukisan-lukisan ’Open For Business’, ‘Toxic Waste’, ‘Forest Reserved’, ‘Belakang’, ‘Ulam Mencari Sambal’, ‘Fantasy Dream’ dan ‘One Way’ karya-karya Abd Latif Maulan. Kali ini aku tak berniat mengganggu tumpuannya, walhal aku jua semakin asyik melakar gerak gerinya. Hampir 10 lakaran dirinya mampu aku hasilkan secara goresan biasa selama dua jam dia di galeri ini. Aku cepat-cepat memasukkan kertas-kertas ini ke beg ’mortar’ku.
Dia menyedari kehadiranku selepas selesai tawafnya mengelilingi galeri itu. “So, macamana?“. Berkerut sedikit dahinya mendengar soalanku, tapi pantas juga dia mengerti bila aku mengarahkan mata ku ke arah lukisan-lukisan itu.
“Amazing artwork, lukisan yang kemas, penggunaan warna yang menekankan penceritaan, ringkas tapi penuh bermakna. Ibarat membaca yang tersembunyi dalam hidup di kotaraya ini. Perlu banyak berfikir, tapi maksudnya memang sampai terus ke hati“, jawabnya penuh keyakinan.
“Kau ni belajar seni atau sastera ke?”,berkerut lagi dahinya sebelum bibirnya mengorak senyuman.
“Saya pernah belajar aeronautical engineering dan sekarang saya jadi pensyarah dalam bidang yang sama. Salahkah orang tak de pendidikan seni sama-sama menikmati keindahan ini?“,tukasnya lalu memandangku menunggu jawapan.
Aku memang jenis manusia yang tak suka menjawab soalan,lalu kubiarkan soalannya tergantung dan menyoal lagi, „“Ada ke aku cakap salah? Apa yang patut aku tahu tentang keindahan aeronautical engineering kau tu?. Terus terang aku tak pernah dengar pasal benda-benda ni. Kau boleh bawak kapal terbang ke?”.
Dia ketawa kecil, masih bersabar dengan kerenah aku yang banyak bertanya dari menjawab. “Saya belajar tentang rekabentuk kapal terbang, kelakuan kapal terbang masa tengah terbang, aliran aerodynamik udara, sifat kelakuan bendalir, kekuatan struktur bahan, menyelesaikan masalah secara sistematik, berapa geseran udara yang manusia kena tempuhi untuk berdiri tegak...itulah keindahannya“, jawapannya tegas dalam kelembutan.
“Aku tak nampak apa yang indah pun dalam apa yang kau ceritakan tu“, aku membangkang pendapatnya sekadar untuk mengheret dia dalam perbualan yang lebih panjang.
“Kapal terbang kena ikut graf penerbangan yang di hadkan oleh batasan-batasan tertentu contohnya had kuasa engin, had daya angkat(lift), had suhu, had tekanan kabin, had tekanan dinamik dan had ketahanan struktur. Semua ni berkait dengan hidup juga, sebab setiap sesuatu dalam hidup ini ada batasannya dan peraturan yang telah ditetapkan untuk kita patuhi, tak kira kita suka atau tak.“, jawapannya kali ini membuat aku terkedu.
Betapa selama ini aku terleka dalam dunia ku sendiri. Terbayang di ruang mataku solatku yang terabai kerana asyik dengan layar kanvasku, berkurung seharian di studio, berjoli di kelab malam dengan hasil jualan lukisanku malah tanpa sedar aku melupakan had batasan yang telah ditetapkan dalam diri seorang muslim sepertiku.
Aku sepatutnya mencontohi Dr. Sulaiman Esa yang merupakan pelukis Malaysia yang mempelopori seni lukisan kontemporari Islam dan sentiasa menyelitkan sedikit pendidikan dan pengajaran berguna dalam karyanya.
“Zahri Asyaari, saya memiliki salah satu karya lukisan awak. Saya memang mengagumi hasil kerja awak, dan saya yakin awak akan berjaya macam pelukis-pelukis terkenal lain.
Barangkali lebih tersohor dari Van Goh, Da Vinci, Lippi ataupun Del Verrochio. Carilah ketenangan dalam hati awak bukan di tempat lain.
Ketenangan itu akan membantu awak berkarya.“, tenang bicaranya satu-satu menusuk telingaku tembus terus ke jantungku. Kali ini aku terdiam, tiada lagi soalan di benakku, huluran sampul merah jambu dari tangannya aku sambut. Dia berlalu pergi selepas memberi salam, meninggalkan aku tegak berdiri di sudut penjuru galeri itu.
Sudut yang sama aku memehatikannya dulu, sudut yang sama aku melakar wajahnya dan sudut yang sama ini juga lah hatiku pecah berderai.
Aku meneliti muka depan kad itu, tertera gambar gadis itu di penjuru kanan dan di penjuru kiri gambar seorang lelaki yang seperti ku kenali. Kata-kata di bahagian dalam merentap jantungku, ’Undangan ke majlis kesyukuran perkahwinan puteri kami Nur Cherrina Emilyia yang bertemu jodoh dengan Akmal Syukry’.
Akhirnya aku teringat, lelaki ini lah salah seorang dari pemain gitar dalam lukisan ’60’s siblings’ yang pernah aku hasilkan dulu. Aku ingat lagi lelaki ini dan adik-adiknya berhenti memainkan alat muzik apabila azan berkumandang, menunaikan kewajipan solat bersama adik-adiknya. Masih jelas juga lagi di ingatanku aku menolak ajakannya berjemaah dengan alasan pakaianku kotor dengan warna cat,dan dengan berhemah di hulurkan pakaian bersih buatku. Hari itu aku solat selepas sekian lama tidak sujud kepadaNya....
“Jika ku tanya padamu manakah arah kiblatmu,apakah jawapanmu sama denganku? Satu rumpun budaya,satu akar bahasa, satu soalan nak ku tanya, adakah kita punya satu suara?“, lagu Satu Suara nyanyian Rausyanfikir yang berkumandang di Radio Tm FM mengembalikan aku ke alam nyata dan menghentikan lamunanku pada peristiwa tahun lalu.
Benarlah kata orang, insan seni jiwanya halus, mudah terasa, mudah juga terluka. Aku terluka kerana terlebih menyimpan rasa buat gadis itu, tapi aku juga terasa bahawasanya dia muncul untuk menyedarkan aku dari lena ku yang dulu. Esok aku akan mengadakan pameran lukisan solo ku : ZAHRI ASYAARI ~ SINAR DALAM GELITA.
Kali ini aku muncul dengan lukisan lakaran kasih sayang dalam kehidupan dan lukisan ’gadis di sudut itu’ bakal menjadi lukisan utama untuk majlis perasmian. Sesuatu yang pasti, aku sudah mengirimkan undangan istimewa buat pasangan Akmal Syaary & Nur Cherrina Emilyia!
Cerpen: Hati & Keperitannya
Mega merah ungu yang indah di dada langit menjadi medium perantara di mana sekeping hati mampu berbicara seenaknya tanpa menyedari segala yang berlaku di sekeliling. Aku berjalan perlahan merentasi taman bunga Avila yang di penuhi daun-daun ‘maple’ kekuningan yang bertaburan di tanah. Pohon-pohon itu semakin togel setiap kali angin bertiup. Kesejukan musim sejuk mencengkam sehingga ke tulang hitamku meskipun tubuhku telah dibaluti jaket tebal.
Aku memandang ke depan, ke arah teman-teman sekelas yang sedang bergambar mengabdikan kenangan. Kami memilih Avila sebagai destinasi untuk menghabiskan cuti sempena perayaan Halloween. Perjalanan dari Madrid ke Avila memakan masa sejam setengah menaiki keretapi Renfe. Junpei melambai-lambaikan tangannya ke arah aku, mengajak untuk menyertai mereka dalam sesi bergambar tak rasmi itu. Pelawaan jejaka kacak dari Jepun yang sentiasa kelihatan bergaya itu tak mampu aku tolak.
Aku berlari-lari anak menyertai teman-teman lain, “zusammen photomachen”, jerit rakan-rakanku. Itu kata-kata dalam bahasa Jerman yang selalu kami tuturkan setiap kali ingin bergambar beramai-ramai. Sekurang-kurangnya pengajian di kota Munich selama setahun membolehkan kami menuturkan beberapa patah perkataan Jerman. Kini tinggal tak sampai setahun lagi untuk kami mengharungi sisa-sisa pengajian di kota Madrid pula.
Waktu sudah menjengah malam sesampainya aku di rumah. Kepenatan yang menguasai diri membuatkan akal mengarahkan tangan mencapai pizza dalam peti, memusing 5minit di ketuhar gelombang. Teringat pulak pada mak di kampung yang selalu merungut tentang kemalasan orang-orang bandar berpunca dari kemajuan teknologi. Aku tersenyum sendiri bila menyedari kebenaran kata-kata itu turut melibatkan aku selaku salah seorang penyumbangnya.
Menikmati pizza berperisa tuna sambil menonton rancangan tv dalam bahasa yang tidak sepenuhnya aku fahami membantu otak aku terbang jauh meninggalkan bumi Sepanyol ini. Hebat benar kuasa yang ada pada lelaki itu sehinggakan masa-masa terluang aku sarat dengan ingatan-ingatan tentangnya. Sedangkan hakikatnya dia tak pernah aku temui dalam hidupku. Perkenalan kami bermula secara tak sengaja bila aku terbaca tulisannya dalam blog.
Kesunyian memaksa aku membaca apa saja yang aku temui di internet. Takdir menentukan mata ini singgah di laman blog tulisannya. Laman blog tentang fotografi itu turut menyelitkan isi tulisan yang menarik perhatian aku untuk menjadi pembaca setia. Hazrul akan memaparkan sekeping gambar saban minggu dan dari gambar itu, dia menulis perkaitan gambar itu dalam kehidupan. Sesuatu yang tak pernah terfikir oleh minda aku selama ini.
Tergambar jelas di ruangan mata aku gambar pertama yang aku lihat di blognya ialah gambar sebotol madu yang diletakkan di tepi sebotol racun tikus. “Orang kata kalau kita tak merasa kepahitan dalam hidup, kita takkan dapat menikmati betapa berertinya setiap kemanisan yang hadir dalam hidup. Aku mahu menjadi manusia yang mampu menilai perbezaan antara madu dan racun tapi aku takkan mungkin boleh menelan racun itu, lalu bagaimana pula aku bisa mengetahui betapa manisnya madu itu?”, itu nukilan Hazrul pada gambar tersebut.
Pertama kali membacanya aku merasa yang Hazrul sudah gila kerana ingin menelan racun sekadar untuk mengetahui betapa manisnya madu itu. Lalu aku kirimkan komen pada gambar itu, untuk membantah pendapatnya itu.
Dia membalas komen itu pada e-mel ku, memohon di beri ruang untuk dia berkarya seenaknya dan dia akan memberi ruang kepadaku untuk mengkritik sewenangnya juga, dengan syarat aku harus membaca setiap patah nukilannya berkali-kali agar maksud yang ingin disampaikan akan menjengah ke dasar hatiku.
Aku menarik nafas yang panjang sebelum kembali merenung gambar itu, membuka kotak fikiran untuk berfikir lebih jauh. Akhirnya aku tersenyum sendiri bila dapat memahami apa yang Hazrul ingin nyatakan.
“Betapa selama ini manusia sering merasakan kepahitan itu sebagai unsur negatif yang merosakkan diri sehingga membunuh hati untuk menikmati indahnya kehidupan ciptaan Yang Esa. Betapa insan sering terlupa yang mereka punya pilihan untuk mengharungi setiap keperitan itu, biar pun dipenuhi kepedihan tapi akhirnya apabila ia berlalu, kita akan menjadi orang yang lebih tabah. Semoga selepas itu, perkara-perkara lain yang terjadi dalam hidup akan lebih di hargai dan di anggap manis kerana yang paling pahit itu sudah berlalu pergi, menjauh dari hidup”, aku kirimkan penilaianku terhadap gambar itu setelah puas aku menafsir nukilan kata-kata Hazrul.
Dan di sinilah bermulanya perhubungan tanpa nama ini. Aku akan menjadi pengunjung setia blognya, bersedia untuk menafsir setiap paparan gambar yang di abadikan oleh kamera DSLR Hazrul. Kadang-kadang kami akan berhubungan di laman blognya, atau di e-mel dan selepas itu berlanjutan pula perbicaraan kami di yahoo masengger. Kali ini aku merasakan kata-kata mak sebelum ini tersilap, kemajuan teknologi sekurang-kurangnya menjadikan aku insan yang rajin ….. rajin menaip!
Sejak itu aku semakin menjadi seseorang yang selalu mengaitkan apa yang aku pelajari supaya dapat aku aplikasikan dalam kehidupan. Terkesan dengan laman blog Hazrul, aku semakin ralit menafsir subjek-subjek kejuruteraan yang aku pelajari untuk aku ubah jua menjadi prinsip kehidupan. Apabila Prof Angel khusyuk menerangkan pembezaan demi pembezaan yang terdapat dalam ‘Navier Stokes Equations’ untuk mendapatkan penyelesaian bagi mengetahui kelakuan terma bendalir dalam skala micro electron, mindaku turut khusyuk memberitahu akal, “ Jika kita meneliti sedalam-dalamnya dalam setiap permasalahan yang melanda, kita akan menemui penyelesaian nya walaupun permulaan suatu penyelesaian itu sendiri biasanya amat sukar dan penuh berliku”.
Gila. Memang dunia ini penuh dengan hal-hal yang tak tercapai dek akal. Mana mungkin orang percaya, seorang pelajar sarjana dalam kejuruteraan aeronautik melihat Navier Stokes Equation, Boltzmann Theory, Newton Limit in Hypersonic Aerodynamic, Lagrange-Hamilton Method, dan berpuluh-puluh lagi teori lain sebagai aspek dalam kehidupan. Kadang-kadang aku tak pernah dapat memahami apa yang cuba di sampaikan oleh pensyarah-pensyarahku tentang kegunaan persamaan-persamaan ini tetapi aku mampu mengaitkan semua itu dari sisi lain yang langsung tak punya pengiraan kalkulator, sebaliknya lebih pada pengiraan hati dan akal dalam menafsir persekitaran.
Aku andaikan kegilaan pada akal aku berpunca dari Hazrul. Tapi dia bertegas menyatakan yang aku memang di lahirkan untuk menjadi seorang pemikir sepertinya. Sepatutnya aku mengambil pengkhususan kesusasteraan berbanding kejuruteraan. Aku tak pernah tahu apa yang aku inginkan dalam hidupku. Selama ini aku belajar kerana aku merasakan itu sebahagian dari tangungjawabku terhadap ibubapa ku. Malah, abah yang menyuruh aku memilih jurusan ini sewaktu aku mula-mula mengisi borang melanjutkan pengajian di peringkat sarjana muda.
"Sehingga kini aku percaya bahawasanya ada keberkatan pada setiap perkara yang aku lakukan demi memuaskan kehendakl orang tua ku", begitu penjelasan yang aku berikan pada Hazrul bila dia menanyakan tentang hal ini sewaktu kami berbicara melalui yahoo masengger.
“Hati kau sendiri tak pernah membantah kemahuan mereka?”, tanya Hazrul seakan tak berpuas hati dengan jawapanku tadi.
“Kau sendiri sepatutnya maklum yang soal hati merupakan sesuatu yang subjektif. Kalau hati aku menolak tak bererti hal itu salah dan kalau hati aku menerima nya, tak bererti ia suatu hal yang benar bukan?”, jawabku pantas menjawab pertanyaannya.
“Kau tak punya pendirian sendiri. Menurut kemahuan orang tua mu tanpa bertanyakan kehendak hati mu sendiri”, tukas Hazrul.
“ Haz, itulah pendirian aku. Apa yang orang tua ku fikir terbaik buatku, itulah yang hati aku percaya. Salahkah kalau aku mahu berpegang pada prinsip itu?. Apa selama ini kau tak pernah mengikut kehendak ibubapa mu? ” ,aku menyoalnya pula.
Dia membisu buat beberapa ketika sebelum memberitahu yang dia perlu tidur kerana ada urusan penting awal pagi esok. Aku tak punya sebab untuk membantah alasannya ini kerana aku sedar perbezaan waktu 7jam antara Malaysia dan Sepanyol di musim sejuk. Pekerjaannya selaku jurukamera bebas membuatkan waktu kerjanya tidak tetap seperti orang bekerja pejabat. Waktu kerjanya lebih fleksibel dan lebih bergantung pada tawaran yang diterimanya. Biasanya hasil kerja Hazrul lebih tertumpu kepada gambar-gambar pemandangan untuk slot iklan di papan-papan billboard.
Soalanku tergantung buat beberapa ketika dan aku juga tak mau membangkitkan hal itu sehinggalah suatu waktu dimana Hazrul sendiri berniat untuk menjawabnya. “Ayahku mencurangi ibu. Arghhh, sebetulnya perkataan mencurangi itu tidak tepat kerana dia menikahi perempuan itu secara sah. Cuma ibu merasa ayah mencurangi nya kerana hal ini di lakukan di luar pengetahuan ibu ”.
Aku tergamam seketika, tidak tahu apa perkataan yang sesuai untuk membalas bicara Hazrul itu. Kebisuan aku memberi ruang pada Hazrul untuk terus menaip.
“Waktu itu aku masih kecil. Pertengkaran demi pertengkaran antara ibubapaku menyesakkan otakku. Aku akan mencapai basikal BMX ku, mengayuh selaju mungkin ke lorong kecil di belakang rumah, sehingga tiba di sebuah pokok ketapang yang sangat rimbun. Aku akan berteduh di bawah rimbunan daun-daun itu, menulis apa saja keperitan yang aku rasai waktu itu. Usai menulis, aku akan mengorek lubang kecil dan menanam luahan itu di dalam lubang, dengan harapan segala kepedihan yang aku rasai akan lenyap di telan tanah lembut di depan pohon besar itu. Sejak itu aku memutuskan bahawa apa jua yang aku lakukan dalam hidupku, aku tidak perlukan pandangan orang lain kerana aku punya tanah lembut di pohon ketapang itu untuk aku kuburkan kesilapan-kesilapan yang mungkin akan aku lakukan.”, jelasnya panjang lebar.
“Sekarang aku tahu dari mana kau beroleh kebolehan melihat, menafsir dan merasa objek-objek di sekelilingmu dengan hati.Keperitan itu menjadikan kau insan yang hebat Haz”.
“Aku tak merasa yang aku hebat Hana. Aku sekadar mahu meluah apa yang aku rasa kerana memendam semuanya akan membuatkan aku menjadi manusia berhati batu. Keras tapi kosong, betapa kekosongan sebenarnya boleh membunuh hati, jadi aku lebih rela memilih untuk mengharungi keperitan-keperitan itu supaya akhirnya aku akan menghargai secebis kenangan manis. Aku insan yang aneh tapi keanehan itu kau anggap sebagai personaliti yang menarik untuk membuatkan kau terus berhubung dengan aku, betul kan?”, gurau Hazrul bagi menutup mood syahdu yang sedang menyelubungi perbualan kami.
-------------------------------------------------------
Semakin lama aku berhubungan dengan Hazrul, semakin aku hanyut dalam persoalan untuk lebih memahami hatiku. Suatu hal yang tak pernah aku tekankan selama ini. Kadang-kadang aku seperti terdengar suara halus yang membisikkan bahawa prinsipku untuk menuruti segala kehendak orang tua ku selama ini seakan suatu keputusan yang kurang tepat bagi hidupku. Tapi pantas pula akalku menyingkirkan suara itu jauh-jauh dari hati. Melihatkan pencapaianku dalam hidupku sehingga ke tahap ini, nyata sekali keputusan mereka belum boleh dikatakan silap. Aku tidaklah begitu cemerlang dalam hidupku tapi boleh di kira berjaya berbanding teman-teman sekolahku yang lain. Akalku meyakinkan aku bahawa prinsip yang aku junjung selama ini memang berasas.
Semakin menghampiri penghujung waktu pengajianku di kota Madrid ini, aku lebih banyak menghabiskan masa bersama teman-teman untuk menjelajahi tempat-tempat menarik. Kami sempat menonton ‘bull fighting’ di plaza de toros. Sejenis tradisi yang amat di gemari penduduk-penduduk Spain, melihat bagaimana hebatnya matador yang berdiri megah di tengah gelanggang kerana dapat membunuh lembu gila yang sudah lemah kerana pening selepas di ajak menggila di kiri dan kanan gelanggang.
Bila aku kirimkan gambar-gambar matador membunuh lembu kepada Hazrul, dia memilih sekeping gambar untuk laman blognya. Gambar itu terpapar perbuatan si matador yang sedang mencucuk pedang, tepat ke atas kepala lembu itu dan menyelitkan nukilan, “Ketidak adilan sedang berlaku. Begitu ramai yang menontonnya, begitu ramai juga yang menikmati ketidak adilan itu dengan gembira dan begitu sedikit yang dapat merasa ketidakadilan itu wujud….namun yang sedikit itu juga hanya mampu melihat tanpa mampu menentangnya”.
-------------------------------------------------------
Usai majlis graduasiku di kota Madrid, aku pulang ke tanah air dengan transkript yang menyatakan aku sudah memperolehi ‘Double Master in Aeronautical Engineering’. Kesibukan memulakan tugas selaku pensyarah membataskan masa luangku. Aku memutuskan untuk berjumpa Hazrul buat pertama kali, bebrapa bulan selepas itu di Teluk Batik. Kami duduk di atas pasir pantai, mengarahkan pandangan pada air laut yang biru dan penuh mendamaikan.
“Haz, seringkali aku merasakan langit ini akan menghempapku, bumi pun seakan semakin bergerak ke atas untuk mencuba bagi menyesakkan aku. Terkadang aku jua merasa seperti sekeping telur di celah roti sandwich. Terhimpit, terkepit, perit dan sesak seakan semua mengcengkam menjadi satu dan kini dari telur mata kerbau di celah roti sandwich, aku sudah bertukar menjadi ‘scrambled egg’, hancur lumat di saluti mayonis”, aku melontar bicara sambil mataku merenung laut yang terdampar di depan kami.
“Hana, aku faham ada sesuatu yang sedang memenuhi kotak fikiranmu tapi aku tak mampu menurasnya lagi. Boleh kau jelaskan lagi?”, Hazrul menyoal sambil tangannya menguis-nguis pasir pantai dengan ranting kayu di tangannya.
Aku menarik nafas panjang-panjang sebelum mengalih kedudukanku sedikit untuk memudahkan Hazrul melihat ekpresi wajahku. “Abah menyampaikan perkhabaran yang aku sudah di pinang orang. Selepas itu, apa yang aku dengar dari mak, segala nya sudah di uruskan. Mak turut meluahkan kata-kata penuh keyakinan yang lelaki ini mampu memahami aku dan mampu membahagiakan hidup aku”, berat bicara itu meluncur dari bibirku dan kolam mataku serasa panas bergenang air mata.
“Hana, cuba kau lihat batu,pasir dan ombak di pantai ini”, tangannya mengunjur kearah objek-objek tersebut. Aku mendongakkan pandanganku, menuruti telunjuk tangannya. “Aku ibarat pasir pantai ini, dan kau ibarat ombaknya. Hujan, panas, ribut atau taufan, pantai akan tetap setia menunggu ombak menghempasnya, setia teguh menunggu di situ kerana pantai yakin ombak tetap hadir. Orang tua mu ibarat batu-batu itu, membuatkan alunan ombak menjadi termusnah sebelum ombak sempat mengunjungi pasirnya.”, seperti biasa Hazrul akan mengaitkan persekitaran dalam bicaranya.
“Aku tak punya hak dalam hati dan hidup kau.Tapi aku yakin kau dah cukup memahami apa yang kita bincangkan selama ini tentang hati dan keperitan yang akan di lalui oleh sang hati dalam proses kehidupan. Buatlah keputusan kali ini berdasarkan kata hati mu. Apapun keputusan yang kau ambil, aku tetap disini, setia teguh untuk tidak akan memusnahkanmu”,Hazrul menyambung bicara sebelum bingkas bangun, tersenyum memandangku dan dengan perlahan berlalu pergi dari sisi aku.
-------------------------------------------------------
“Penantian suatu siksa yang tidak tertanggung oleh tubuhku yang kering dan layu. Kepastian suatu penawar dalam suka dan duka yang meniti hidupku.”, suara suamiku menyanyikan lagu Penantian dendangan kumpulan Harmoni kedengara sayup-sayup dari arah bilik mandi.
Aku tersenyum sambil merenung gambar perkahwinan kami. Aku punya banyak sebab untuk tersenyum kerana hal yang berlaku tika dan detik ini, tak perlu membuatkan hati terasa perit dan dalam masa yang sama mengekalkan prinsip yang selama ini aku pertahankan. Aku berkahwin dengan insan pilihan orang tua ku yang juga dalam masa yang sama, insan pilihan hatiku….Hazrul si pasir pantai!
Cinta "Makeover"
Apabila berkali-kali Fazlin bertembung dengan tunangnya bersama beberapa gadis-gadis sekolej dengannya, dia bagaikan sudah serik untuk meneruskan pertunangannya. Hari Azman ditangkap khalwat, adalah hari dia mahu memutuskan pertunangannya itu. Namun, ibunya yang begitu menyanjung keluarga Azman, amat keberatan membenarkan dia berbuat demikian. Lalu,
“Kita tak boleh nak sewenang-wenangnya memutuskan pertunangan ini Lin, mama takut nanti mama dibenci bapa Azman, dia tu Dekan mama!”
“Maaa, Lin tak tahan dengan perangai Azman…you know kan?”
“Ya laa…mama pun menyesal dan malu menerima si Azman…emm, apa kita nak buat Lin?”
“The only way to do this ma…ialah dengan membuatkan si Azman itu sendiri memutuskan pertunangan ni!! Eee…geramlah ma!”
“Err…tapi nak buat camana?”
“Alaaa…Lin buat macamana dia buatlah, bagi kena tangkap khalwat dengan lelaki lain…haaa, senang je tu!”
“Issshhh…gila?! Mamaa tanya betul-betul ni, bukan main-main…”
“Betul lah ma…”
“Habis, lepas kau kena tangkap, mana mama nak sorok muka mama ni? Malu satu kolej, satu keluarga kita malu, semua sedara mara tanya apa nak jawab?! Huuu…NO! NO! NO!!”
“Ok then…mama bagilah idea…”
“Okey…emm, apa kata…”
Chapter 2
Wajahnya, masam mencuka. Rambutnya panjang mencacak-cacak… kusut masai. Memakai Tshirt putih yang sudah kelabu, jeans levis koyak merata! Sambil matanya kuyu, dia hampir lentok terlena duduk di kerusi depan Pensyarah Mariam…
“Farain!!...pay attention!”
“Hah?!Hah?...ya..ya puan…” Terkejut mat rock itu dari lenanya. Farain adalah salah seorang pelajar kolej yang selalu ponteng kelas, malas belajar dan menjadi pelajar favourite Puan Mariam…untuk diceramah. Tetapi hari itu…satu tugas besar menunggunya.
“Maa…eeiuuu…pengotor lah ma dia ni.”
“Well, dia aje yang ada…yang lain-lain semua tak berminat!”
“Emm Mama, are you serious?...is this the guy? Biar betul…”
“Well…you got better idea?”
“Hahhhh….oklah! oklah!...so apa nak buat seterusnya?”
“Hehe…extreem makeover!”
Terbeliak mata Farain yang mulai kuyu semula. Dia mulai menggaru-garu kepala dan dadanya. “Errr…apa maksud puan tu?...dan..err..dan ..tuju kat saya ke tu?”
“Awak diam Farain!...ikut saja apa saya suruh, memang sudah lama saya nak cuci awak ni, dah lah selekeh, pengotor…busuk pulak tu. Kalau bagus belajar tak apa jugak, ini pemalas!...awak nak saya beri F untuk semua mata pelajaran awak?”
“Ya…ya puan….MAAF!...err…tidak puan, saya nak A hehe...”
“Ok Lin..take him…dan do the makeover!”
“Huuuhh my God!”
Chapter 3
Sungguh tidak disangka sekali apabila mamanya telah mencari helah untuk Fazlin dengan mencari lelaki yang sanggup menyamar dan berlakon bermesra dan bercinta dengannya agar boleh membuatkan Azman bertukar benci kepada Fazlin, lantas Azman sendiri yang akan memutuskan pertunangan mereka. Tetapi helah mereka tersekat seketika apabila beberapa lelaki tampan dan segak tidak mahu bekerjasama. Sehinggalah Farain lelaki terakhir yang bersetuju, semuanya kerana tidak mahu gagal di dalam final examnya.
“Eee… ngapa awak renung saya aje? …seramlah!” Kesah Fazlin pada Farain yang baru selesai dimandikan dan dilulur pembantu Spa Puteri di Shah Alam.
“Emm…awak cantik!” perlahan nada suara Farain menjawab.
“YA! Saya tahu…awak tu yang hodoh, comot, dah berapa bulan tak mandi?”
Farain hanya tersenyum dengan wajahnya yang selamba dengan rambutnya yang panjang jatuh menutupi hampir kesemua mukanya. Dua orang pembantu Spa itu tiba-tiba muncul dengan persalinan baru, “Encik Farain…masa untuk berendam air bunga dan mandi susu…”
Farain mengangguk dan mulai melangkah mengikut pembantu-pembantu spa itu, duduk di penjuru, Fazlin sempat berkata, “There you go…pergi cepat!!...abang, tolong berus seluruh badan dia ya, buang semua daki-daki dan karat-karat kat celah-celah tu…hehehe…”
Geram juga rasa di hati Farain, tapi apa nak buat…dia sememangnya sudah berbulan-bulan tidak mandi dan hidupnya sudah tidak terurus dan seperti orang terbuang kerana menggilai seseorang tetapi tidak pernah dilayan sebelum ini.
“Ya lah Cik Fazlin…haa…abang-abang semua, dengar tak Tuan Puteri kita bertitah tu? JOM…do me a makeover, ubahkan saya menjadi seperti raja, so bolehlah saya menjadi pasangan si puteri sombong tu hehehe!
“Ooh..perli saya…”
“Hehe..well, cik Fazlin…bagi saya, you boleh buat makeover macamana sekalipun kat saya, nak jadikan saya charming macamana pun, tetapi dalam diri saya, saya tetap berjiwa rock! Selamba dan santai…”
“Well, Encik Rain…seperti mama saya cakap…JANGAN CAKAP BANYAK! Pergi buat apa yang sepatutnya awak buat! Hehehe…”
“Baiklah sayang…yang cantik…yang manja…abang pergi dulu ya…”
“Eeuui…mat rock gatal…pengotor…go now!”
“…ya lah, ya lah!...gurau sikit pun tak leh. Boring!”
“Hihihi..” Mengeleng-geleng kepada Fazlin dan tergelak sendirian dengan aksi Farain, ...CUTE, yang secara am nya, hodoh tapi menarik!
“Hmmm…entahlah, apa akan jadi seterusnya dengan mamat ni…”
Chapter 4
Persetujuan Farain sebenarnya amat menggembiran Puan Mariam yang cukup kenal sangat dengan pelajar kolej itu yang sudah lama memerhatikan anaknya. Malah dia agak benci dengan sikap Farain yang selalu mempermain-mainkannya di bilik kuliah sebelum ini. Tetapi Perubahan mendadak yang dilakukan secara Extreem Makeover terhadap Farain benar-benar mengubah lelaki itu.
Dari seorang yang sangat selekeh, sekarang dia kelihatan sungguh segak walaupun dia bukanlah lelaki tampan. Dari seorang yang selamba dan suka bermain-main dan tidak serius dalam apa jua hal, dia memaksa dirinya menjadi sopan, beradab dan sangat menarik ketrampilannya. Yang berbau dan berdaki, kulit yang agak gelap, kini dia wangi, bersih dan berseri kulitnya. Sehingga kawan-kawan sekuliahnya hampir tidak mengenalinya lagi. Masing-masing mulai bersorak...
“Farain ke ni???...wow! WOW! WOW! WOWW!!”
Begitulah riuh suara ramai pelajar-pelajar kolej lain yang amat terkejut melihat lelaki itu muncul bersama Fazlin menuju ke bilik Puan Mariam. Namun, Farain sangat tidak selesa dengan perubahan itu, kadang-kadang perangai lamanya masih terikut-ikut.
Cuma perkara yang senang untuk dia lakonkan ialah mencintai Fazlin kerana itu sebenarnya sudah sebati dalam dirinya sehingga Puan Mariam dan Fazlin terpaksa berulang kali mengingatkannya yang mereka hanya berlakon. Farain mengangguk lemah, tetapi di dalam hatinya, dia berazam untuk cuba memikat gadis itu supaya benar-benar jatuh cinta kepadanya.
Chapter 5
Sudah hampir 2 minggu, panggilan telefon dari Azman tidak dilayan Fazlin, dia benar-benar berusaha untuk membuatkan lelaki itu memutuskan pertunangan mereka. Keletah Farain pula yang selamba rock dan pandai berjenaka, selalu membuatkan Fazlin tertawa riang. Walaupun dia tidak setampan mana, tetapi gurauan Farain selalu menggelikan hati Fazlin sehinggakan Farain dan Fazlin semakin mesra dan amat rapat. Malah, pasangan yang menyamar ini begitu terkenal hampir ke seluruh kolej, sebagai couple yang paling romantik dan happy go lucky! Sehinggalah terdengar ke telinga Azman yang mulai cemburu dan rasa tercabar, lantas, lelaki itu telah membuat lawatan ke kolej…
“Lin…Man dengar, you ada boyfriend kat kolej ni? Apa…you sudah lupa ke you tunang I?...walau apa pun yang telah berlaku kat I..itu semua dusta, orang nak fitnah I…Lin, I sayang you tau…”
“Oh really? Patutlah you tidur dengan macam-macam perempuan…”
“Look…itu semua karut, I tak sayang dia orang okey…I sayang you saja…”
“Sudahlah…I got to go.”
“Nanti sayang…”
Puan Mariam yang nampak akan si Azman dan Fazlin berbual, cepat-cepat memanggil Farain dan menyuruh lelaki itu pergi melakukan tugasnya, dengan membuatkan Azman cepat membenci Fazlin.
“Hai sayang…” tegur Farain, terasa geli di kerongkongnya...tapi terpaksa.
“Hei Rain…dah lama I tunggu you tau”
“Ya?...eh jomlah, kita gi makan…I lapar lah.”
“JOM!” Sambil menjeling kepada Azman yang mencuka rautnya, Fazlin terus saja mencapai lengan Farain dan berkepit rapat, berdua-duaan meninggalkan Azman yang terus terpinga-pinga di situ dan mendengus-dengus kemarahan. Fazlin amat gembira sekali kerana telah dapat membuatkan lelaki itu marah. Dia amat berharap, Azman memutuskan pertunangannya secepat mungkin.
“Tengok tu Rain, Azman dah marah tu…nampaknya kita berjaya.”
“Ya lah, hehehe…baguslah…cepat-cepat dia belah, cepatlah kita boleh mula bercinta, kasi real punya la sikit…”
“Apa you cakap?”
"Tak ada apa..."
"Tadi you cakap kita bercinta apa dah tadi..."
“Huh?..taakkk..hmm..I cakap...bestlah you ada seorang ibu yang sanggup merancangkan kebahagiaan anaknya…I tak ada siapa …yatim piatu.”
“Oh? sorry…hmmm…you tak ada keluarga lain?”
“Ada…bapa sedara I, tapi jauh…kat Australia. Kat sanalah I mula minat Lenny Kravits, Steven tyler…then mula jadi rockers…yeaaaahhhhhh…hahahaha…”
“Hehehe..you ni memang funny guy lah…”
Keesokan harinya, dan hari-hari seterusnya…
Hampir setiap hari Azman datang ke kolej itu untuk berjumpa dengan Fazlin, dia langsung tidak putus asa, dan tidak menunjukkan tanda-tanda dia akan memutuskan pertunangannya dengan Fazlin. Malah, Azman juga turut mulai melakukan ‘Makeover’ dengan dirinya sendiri. Azman berubah menjadi seorang lelaki yang benar-benar baik terhadap Fazlin dan langsung tidak cemburu dengan perhubungan Fazlin dan Farain. Sehingga membingungkan mereka berdua…
“Isshh…geram aku dengan si Azman ni. Apahal dia tak give up ah?”
“Ya lah…hmm…apa lagi kita nak buat?”
“Tu lah pasal…gua dah tak tahu nak buat apa dah beb!..err...maksud saya, ...saya sudah tidak tahu...”
"Nevermind Rain!"
"Heh?...hehe okey...tapi mamat ni kacau arrr.."
Farain amat tidak berpuas hati kerana lakonan mereka hanya membuat Azman berubah menjadi lebih baik, bukan sebaliknya. Makin rapat Fazlin dan Farain ‘bercinta olok-olok’, Azman semakin baik pada Fazlin dan telah berubah menjadi seorang lelaki yang amat setia kepada tunangnya, malah begitu understanding terhadap perhubungan Fazlin dengan Farain, sehinggakan semua pelajar-pelajar kolej memuji-muji pula sikap Azman...apa sudah jadi?!
Chapter 6
Hari berganti hari… sikap Fazlin pula mulai berubah ghairah dengan perubahan Azman. Dia yang begitu teruja mahu membuat Azman marah dan benci kepadanya dulu, kini beralih arah. Malah dia begitu gembira sekali melihat Azman kembali tergila-gilakannya. Perasaan ingin memutuskan tali pertunangan dengan Azman, semakin pudar di ingatannya. Hampir setiap masa dia meluahkan rasa gembira dan terujanya dengan perubahan Azman sehinggakan membosankan Farain yang berpura-pura suka dengan apa yang telah terjadi.
“Lin happy nyaaa…Rain, At first Azman amat cemburu kan Rain, dia marah sangat, tapi sekarang dia dah berubah jadi baik sangat tau Rain. Bayanglah…dia sendiri yang buat TOTAL MAKEOVER dengan tingkah lakunya!”
“Humhhh...lawaklah mamat tu…nanti gua mandikan dan lulurkan dia kasi cuci!”
“Hahaha…ya..ya..nanti you buat tu. But…Lin rasa happy tau Rain…HAPPY! HAPPY!”
“Ya, I know…I can see, tapi…”
“Masa Lin duk bercinta dengan dia dulu tak macam ni tau…hahaha, I’m so greatful!!! …sekarang baru dia tahu. Itulah, masa I duk gila dan cinta dia sangat dulu, dia buat tak tahu aje, sekarang baru dia nak terhegeh-hegeh. Hahaha…padan muka dia kan, Rain.”
“Emm..well, good for you, okeylah tu humhhh…” keluh Farain. Semakin bosan dengan luahan Fazlin.
“Dia gentleman sangat tau sekarang…dia boleh relax je tentang perhubungan kita. So understanding…dan dia setia kat I, hari-hari datang tuuu, you nampak tak Rain?”
"Macam tu setia you kata?..."
"Aii...kalau tidak, dia takkan datang jumpa I hari-hari ni tau..."
“Yaaa…”
“Yeah! I berjaya! …I berjaya Rain…”
“Berjaya?...bukan ke you nak putus tunang ngan dia? Siap guna I lagi untuk buat dia benci kat you. Sekarang ni you all semakin rapat…apa yang you kata berjaya nya ni?”
Fazlin terdiam seketika, teringat tujuan lamanya yang tak kesampaian tetapi wajahnya berubah ceria bila mengingatkan Azman yang begitu menggembirakannya sekarang! “Hehe…betul jugak kan…tapi I’m happy with him now.”
“Yaa…mungkin makeover dia lagi power…” jawab Farain. Tersimpan perasaan kecewa di hatinya kerana Fazlin tidak nampak yang dia sebenarnya telah lama menyimpan perasaan kepada gadis itu dan jauh di lubuk hatinya, dia benar-benar mencintainya.
"Ya mungkin...hihihi..." jawab Fazlin, tergelak-gelak kecil melangkah kaki meninggalkan Farain, bagai khayal dalam cinta yang semakin indah baginya...Farain mencebik sedih...kecil terasa di hatinya, bengkak jiwanya mengenangkan perhubungannya yang bagai kabus berlalu, tebal tetapi kosong semata-mata...
Chapter 7
Akhirnya..., rahsia penyamaran Farain terbocor sudah setelah Azman terdengar perbualannya dengan Fazlin sewaktu dia diberitahu yang helah pembohongan dan penyamaran itu sudah tidak diperlukan lagi...
Farain terdiam seribu bahasa…hilang sudah peluangnya untuk bersatu dengan Fazlin. Lenyap kini cinta yang diidamkannya…tiada lagi harapan kepada cinta yang seumpama cahaya mentari hampir hilang di balik awan mendung...
“FAZLIN!...you buat semua ni untuk I?” Terkejut mereka berdua tersergah oleh Azman yang muncul tiba-tiba. “You sanggup berlakon demi untuk membuatkan I cemburu, Lin?..Wow!”
“Well…yaa…I masih sayangkan you Man…” jawab Fazlin penuh manja, terus saja Fazlin dipeluk erat oleh Azman. Farain tertunduk malu dan perlahan-lahan mengundurkan kakinya, lemah melangkah pergi dan berlalu depan bilik Puan Mariam yang kelihatan sudah lama berdiri di situ sambil tersenyum sinis ke mukanya. Sedih di hati Farain, bertambah pilu dengan riak wajah Puan Mariam…langkahnya terhenti, dia memandang kembali ke arah Fazlin yang terus berada dalam pelukan Azman…bergenang matanya…Bapa Azman muncul perlahan-lahan kemudiannya dengan wajah yang penuh puas dengan apa yang dilihatnya. Sambil berkata,
“Mariam…rancangan you berjaya…Genius!”
“Terimakasih Tuan Ariffin…”
Farain kehairanan...terpinga-pinga dengan kehadiran Dekan itu yang datang entah dari mana. Apa yang dimaksudkan oleh dia ni? Rancangan apa? Lalu perbualan mereka dicelah Farain,
“Apa semua ni Puan Mariam?...rancangan apa ni?”
“Farain!...awak boleh pergi sekarang…awak hanya menyamar di sini dan tugas awak sudah selesai!” tegas Puan Mariam, memuncung-muncung mulutnya.
“Err..ada apa ni Mariam?..siapa budak ini?”
“Err..err…tak ada apa-apa Tuan.”
“Mariam, you memang hebat, bagaimana you boleh tahu anak you akan kembali kepada Azman sebenarnya?”
“Oh? Hehe…sebenarnya I lebih tahu pasal anak you Tuan Ariffin, maaf…tapi, Azman cukup terkenal menyukai gadis yang mempunyai cabaran…jadi bila I ujudkan cabaran untuk dia…pastinya dia akan kembali mencuba sedaya upaya untuk memenangi hati Fazlin…dan itulah kelemahan anak saya pula.” Jelas Puan Mariam sambil menjeling ke muka Farain dan memberi sedikit lagi senyuman sinis…
“Hahaha…you memang bijak Mariam…BIJAK!”
“Well, berbesan kita Tuan Ariffin?”
“Itu sudah pasti!”
Tersentak seketika minda Farain, bagai terhenyak jantungnya bila dia terdengar apa yang pensyarahnya berkata kepada Dekan kolej itu…lantas dia memandang keseluruhan situasi itu…jelaslah sekarang yang dia hanya dipergunakan oleh Puan Mariam bukan untuk memutuskan pertunangan mereka tetapi semata-mata untuk merapatkan kembali Fazlin dan Azman! Walau dia sedar, segala-gala hanyalah lakonan dia dan Fazlin, tetapi jika untuk membuatkan Fazlin kembali kepada Azman...tidak mungkin dia bersetuju melakukan helah itu... Tambahan kini dia tahu perkara sebenar...Puan Mariam membohonginya, membuatkan Farain terasa begitu terhina dipermainkan sedemikian rupa…
Chapter 8
FAZLIN : Sekembalinya Fazlin kerumahnya, semalaman dia terkenang kepada kedua-dua lelaki di dalam hidupnya. Azman, anak Dekan, lelaki kaya dan tampan. Farain pula…lelaki selamba, kutu rock, tidak hensem tetapi selalu membuatkan dia ketawa. Pelik…sepanjang dia berada di dalam dakapan Azman, sedikit perasaan teruja tidak dirasainya, malah tiada perasaan ‘MAGIC’ antara dia dan Azman.
“Aku confused!...bingung sangat!!! Segala kenangan suka duka bersama Farain yang aku anggap langsung tidak bermakna itu pula, yang mulai mengusutkan kepalaku. Ahhh...apa aku nak buat nihhh??! Segala lakonan selama ini, benar-benar buat aku rasa begitu bererti...oh GOD!!. Semua gelak ketawa dan gurau senda bersama Farain ahhh...menusuk kalbu ku... walaupun ianya hanyalah lakonan tetapi bagi ku ia AMAT REAL!...tapi bagaimana pula kasih Azman pada ku??”
FARAIN : Sepanjang minggu, Farain mengurungkan dirinya di kamar asrama lelaki, dia tersangat kecewa dengan apa yang telah terjadi, apatah lagi bila mendapat berita yang Fazlin dan Azman akan diijab kabul dalam minggu ini juga…
“..aku sedar yang aku bukanlah lelaki pilihan Fazlin, aku tak berharta, tak memiliki paras rupa setampan Azman, malah sememangnya aku tidak layak untuk memiliki gadis itu! Ohhh...aku kecewa lagi kali nihh…terluka lagi kerana cinta yang sudah terpendam sekian lama…aku...aku...aku harus pergi dari dunia ini, pergi jauh dari kekecewaan ini...AARRGGHHH!!!”
Jeritan Farain nyata benar menyampai maksud yang dia tidak dapat menerima hakikat yang Fazlin bakal menjadi isteri orang...akhirnya, kerana sudah terlalu kecewa, Farain mengambil keputusan nekad untuk berhenti dari meneruskan pembelajarannya dan pergi ke Perth Australia, pulang kepada bapa saudaranya yang pernah menjaganya dulu. Farain lebih rela tinggal bersama pakcik dan makciknya di Fremantle, menjadi nelayan laut luas daripada melihat cinta hanyut dibawa arus deras…
Chapter 9
Di hari pernikahan Fazlin, Farain akan berangkat ke Australia dan sepanjang perjalanannya ke lapangan terbang segala kenangan manis bersama Fazlin mulai bermain-main diingatannya. Sekilas, bercahaya pula setiap detik dan saat bersama gadis itu menerpa terus ke kanta matanya seolah-olah sebuah wayang gambar bermain di depannya…sebak dada tak terkira, senak terasa..dan perlahan-perlahan…air matanya itu gugur juga akhirnya… “Lin…”
Semasa upacara akad nikah Fazlin, gadis itu menangis tidak henti-henti dibiliknya. Entah apa yang bermain di mindanya, dia sendiri bingung! Apabila mengintai di balik daun pintu, memandang ke wajah Azman, dia langsung tidak merasakan keselesaan sebagaimana dia dengan Farain. Dia seolah-olah baru tersedar akan kehilangan Farain, tersedar akan lelaki itulah yang benar-benar menyintainya.
Puan Mariam agak sugul melihatkan perubahan Fazlin sepanjang minggu. Dia kerisauan, kerana dia juga menyedari keadaan Fazlin, jauh di sudut hati perempuan tua itu, dia tahu yang Fazlin teringatkan seseorang…
“Lin…sudah beberapa hari mama tengok, Lin muram saja…I thought you’re going to be happy bila Azman nak kahwin dengan Lin…”
“Yaa…I’m happy mama…jomlah kita jalankan upacara akad nikah ni. Orang pun dah ramai kat luar tu…”
“Happy?...so tangisan Lin ni…tangisan gembira?”
“Yes mama…yes…”
“Lin, you cannot lie to me, I’m your mother…mama mungkin sudah tersilap… mama ingat Lin mahukan Azman...”
“Mama, stop talking about this okey!” airmata yang berjurai di sapu dari matanya yang sembab. “Orang semua menunggu, upacara akad nikah akan dilangsungkan sekejap lagi...er..Lin..Lin mahukan perkahwinan ni…mama pun akan happy sama kan ma?”
Berderai airmata Puan Mariam bila soalan itu diajukan…seperti satu bebanan yang tersangat berat terhempap ke kepalanya…dia merasa begitu menyesal. Melihat ibunya pula yang menangis, cepat-cepat Fazlin memeluknya erat dan Puan Mariam juga memeluk anak gadisnya itu dengan sepenuh kasih sayang…
“Lin…maafkan mama...Lin..err, Lin pergilah kepadanya…pergilah Lin…Rain akan berangkat ke Australia sekejap lagi.” Kata Puan Mariam dalam sebak dan penuh penyesalan…rupa-rupanya dia juga merasakan apa yang Fazlin rasa…naluri ibu yang melahirkan anaknya tidak akan terpisah dari sebuah kepiluan yang menyelubungi.
“APA?!!...apa yang mama cakap ni?...dan Rain akan ke Australia?!”
Di ruang tamu, semua orang mulai resah gelisah menanti kebenaran dari Puan Mariam untuk melangsungkan upacara akad nikah itu. Azman berpeluh-peluh menanti dan terus menanti…tiba-tiba, Fazlin keluar bersama dengan mamanya dari kamar tidur sambil terus menangis teresak-esak. Puan Mariam mulai berkata…
“…Saya ingin meminta maaf kerana membiar anda semua lama menunggu. Tetapi, anak saya ada sesuatu yang hendak dikatakannya.”
Bapa Azman dan lain-lain yang hadir bertambah gelisah. Wajah Imam juga agak terkejut. Azman tiba-tiba bangun berdiri… “Mengapa Lin?..mengapa you menangis?”
“Maafkan I Azman…sebenarnya..I tak dapat…”
“STOP!!...jangan teruskan...please tell me, you bukan nak tarik diri Lin...I love you!…”
“Maafkan I Man…I don't...I don't...”
“APA?!!...You don't apa??...ishhh, ini mesti pasal budak RAIN TU KAN?!!” bentak Azman tiba-tiba.
“Tak…tak...”
“Habis tu…pasal apa you nak hentikan pernikahan kita dan menangis macam ni sekali?!”
“I…I don't love you anymore Azman…I don't feel the love...”
“WHAT??!!!...you jangan nak malukan I dengan keluarga I okey!...dah lama I bersabar dengan you, dah lama I berlembut dengan you, ingat senang ke I nak buat semua tu kat siapa-siapa saja. Tolong sikit okey!”
“Azman...please understand!”
“Ahh…you jangan nak berlakon lagi lah!”
“Azman dengarlah tu penerangan anak saya tu.” tambah Puan Mariam cuba memahamkan Azman.
“Mariam…apa semua ni?!” Dekan pula mulai bersuara.
“So you don't love me anymore??...Hey Fazlin…you ingat I tak tahu siapa Rain tu sebenarnya?..takkan you jatuh cinta dengan kutu rock tu pulak? …are you serious? Huh, who’s he? NOBODY!!”
“AZMAN!...”
“Huh… you nak tinggalkan I untuk lelaki yang tak guna tu?...tak ada pelajaran, merempat! Please lah…
“Sampai hati you Azman…I ingat you sudah berubah selama ni…”
“Sudahlah tu Lin…” pujuk Puan Mariam melihat tangisan Fazlin yang semakin menjadi-jadi dan terus teresak-esak.
“Mariam…you dan anak you telah memalukan kami sekeluarga hari ni. You tahu apa akibatnya, kan. Sudahlah Azman, Tok Imam…mari semua, KITA BALIK!”
“TIDAK AYAH!...Man takkan balik, mereka ni takkan memalukan Man, ayah!”
“Sudahlah Fazlin…pergilah kejar Farain sebelum kapal terbang berangkat pergi.” kata Puan Mariam yang sudah malas hendak dengar kata-kata Dekan lagi maupun Azman sendiri.
“Baik mama.”
“Hei, hei..mana kau nak pergi tu Fazlin?...FAZLIN!” jerit Azman melihat gadis itu yang terus bergegas untuk ke Airport tanpa menghiraukan siapa-siapa lagi.
“Fazlin!...Fazlin...FAZLINNNN!!”
FINALE
Fazlin tercari-cari Farain di airport. Keberangkatan Pesawat ke Australia hanya tinggal 15minit sahaja lagi. Fazlin tahu, Farain pastinya sudah pun masuk ke ruang boarding pesawat. Lalu dia terus berlari dan berlari sehingga merempuh sekuriti di muka depan pintu departure. Fazlin terus berlari ke gate 28, dan kelihatan pesawat Quantas Airways masih di parking bay. Dia melonjak kegembiraan sedang beberapa sekuriti masih mengejarnya pula di belakang. Sampai di luar boarding area gate 28…Farain kelihatan sedang melangkah longlai memasuki aerobridge untuk masuk ke pesawat.
“RAIN!!...RAIN!!...TUNGGU!!” jerit Fazlin dari luar dinding kaca yang tebal itu, namun tiada siapa yang dapat mendengar jeritannya. Fazlin memukul-mukul dinding kaca itu pula, “RAINNN!!!!”
Malangnya, Farain terus berjalan masuk ke pesawat dan belum pun sempat Fazlin mengejar Farain ke dalam boarding area, dia telah ditangkap sekuriti.
“RAIN!!...Hu! Hu! Hu!...Rain…Rain…” rintih Fazlin semakin lemah memanggil Farain dan dia hanya sempat melihat lelaki itu melangkah masuk ke dalam kapal terbang yang kini sedia untuk bertolak. Fazlin terduduk di lantai tersangat kecewa dan dia tertunduk, kecundang di situ dengan hatinya yang teramat-amat sedih sekali menangisi kehilangannya…“Huhu..huhu...Rain...Hu!Hu!Hu!...Rain…Rain…”
Tiba-tiba, naluri Farain bagai terasa… “Uhh??...seperti ada orang memangil nama ku?” Farain berpatah balik dan berjalan keluar dari aerobridge lantas menjenguk di luar seketika. Dia menoleh sekeliling tetapi tidak nampak sesiapa. “Huh..khayalan aku barangkali…” terus saja dia berpatah masuk ke pesawat balik dan tidak perasan yang Fazlin masih terduduk di lantai, dalam tangkapan sekuriti.
Di dalam pesawat, airmata Farain menitis-nitis di pipinya. Kekecewaannya itu sangat menghiris hatinya. Tetapi apakan daya… “Lin…walau ku masih mencintai mu, aku harus meninggalkan mu dan harus melupakan mu…walau nurani ku masih menginginkan mu dan hatiku masih mencintai mu…aku harus merelakan kau pergi…”
Itulah pengorbanannya, walau dia teramat menyintai Fazlin, tetapi dia merelakan gadis itu pergi bersama orang yang dia lebih cintai...tetapi sesuatu yang teramat sedih sekali, Farain tidak menyedari yang sebenarnya cinta Fazlin hanyalah kepadanya…
– THE END –
“Kita tidak akan merasa kehilangan orang yang kita sayangi kecuali setelah kita kehilangannya...”
Langganan:
Postingan (Atom)